Translate

Wednesday, June 6, 2012

:(

Di tepi cabikan hidupku,
sekonyong-konyong pupus jiwa ini terbawa angin ke barat,
jatuh di lembah waktu.
Malam bertemu gelap dan basah,
lembab air mata membuat mimpi-mimpiku berjamur.
Mentari senja semakin mengabur,
dan aku hanya bisa meratapi temaramnya yang lamat-lamat,
tanpa berharap semburatnya memberikan hangat.
 
 
Kadang kesedihan seperti ini tidak bisa dibagi, bahkan kepada orang terdekat. Cukuplah untuk tahu kalau aku sedih. Tampung saja tangisku dalam diam, sambil diam-diam mengusap punggungku yang sesenggukan. Karena sahabat sejati akan menawarkan pelukan meski tahu bahwa dia dipandang tidak pantas untuk paham.


Dalam kesedihan

Saturday, June 2, 2012

Salah satu film yang menggambarkan masa perang yang berhasil membuat saya ngeri selama berhari-hari

Selamat datang bulan Juni :)


sumber: http://hiburan.kompasiana.com/film/

Walau saya nggak suka ke Bioskop, tapi saya suka menonton film. Dan saya suka sekali film yang base on Sejarah. Sekalian menonton film, sekalian kita belajar mengenai apa yang telah terjadi di waktu lampau. Sejarah itu penting untuk pembelajaran. Kalau kita mau instropeksi dan menengok ke belakang, kita bisa belajar untuk nggak mengulang kesalahan-kesalahan yang sama di masa lalu.

Lebih spesifiknya, saya suka film pada masa-masa peperangan.

Menyukai film masa perang bukan berarti saya cinta kekerasan. Setiap kali saya menonton film masa perang, setiap kali pula saya mengutuk kekerasan. Film-film ini terus mengingatkan saya bahwa kekerasan masih banyak terjadi di sekitar kita, dan terus membuat saya untuk bermimpi mengenai dunia yang damai dan penuh toleransi.

Terkadang saya capek bahkan untuk sekedar berkhayal. Rasanya dunia yang selalu menghadirkan kekerasan ini nggak bisa lagi disembuhkan. Susah memutuskan rantai setan yang menghubungakan kekerasan dan  kekuasaan, karena kekerasan yang terjadi jelas berkaitan dengan banyak hal dan banyak pihak. Rasanya kita nggak bisa lagi percaya kepada siapapun, bahkan kepada orang-orang yang di gaji dengan pajak yang kita bayar untuk melindungi kita.

Ketika nafsu untuk berkuasa muncul, seringkali nyawa dan kebebasan orang lain nggak ada harganya.

Tapi kalau saya ~yang masih muda~ capek, apalagi orang lain? Saya terus berkata pada diri sendiri untuk nggak capek bilang benci kekerasan. Meski dianggap aneh, meski dianggap lebay.

Film terakhir yang saya tonton adalah: Flowers of War.

Itu benar-benar film yang mengerikan.

Bukan, maksud saya bukan film yang jelek. Itu film yang bagus. Saking bagusnya menggambarkan kekejaman masa perang sampai-sampai membuat saya ngeri dan terbayang-bayang terus. Film itu menggambarkan kondisi China pada tahun 1937, ketika Jepang menduduki kota Nanking. Sebuah tragedi kemanusiaan dunia yang dikenal dengan nama: Rape of Nanking.

Saya tidak pandai menceritakan mengenai film. Tapi Flowers of War adalah cerita mengenai indahnya pengorbanan di tengah-tengah kekacauan dan kekejaman. Bahwa masih selalu ada sekelumit kemanusiaan disaat kita putus asa berada di tengah-tengah kekejaman.

Tapi bagi yang tidak tahan dengan adegan perkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan brutal, lebih baik lewati saja film ini :).



Oh, bagi yang belum pernah mendengar mengenai Rape of Nanking (masa sih?) bisa dibaca disini.

Saturday, May 19, 2012

Berada dimana kamu pada bulan ini tepat 14 tahun yang lalu?

popmilk.multiply.com

Saya sering diejek dan dikerjain oleh teman saya soal fobia saya akan ruangan tertutup dan gelap.

"konyol," kata mereka.

Saya yang berbadan besar dan berkarakter judes-judes asoi masa iye takut sama ruangan gelap? Tapi nggak banyak sih yang tahu apa penyebabnya. Mereka cuma tahu saya cemen karena takut gelap. Ya iya sih, saya cemen. Dan sekarang, saya mau cerita asal muasal kecemenan saya ini.

Pertanyaan khusus untuk pembaca WNI, "berada dimana kalian 14 tahun yang lalu?"

~saya sok iye banget sih, "khusus WNI". Kaya ada yang baca blog galau aja :D

14 tahun yang lalu saya masih SMP, dan berada di Solo.

Rumah orang tua saya di Solo. Bukan Solo sih tepatnya, tapi di pinggir kota Solo, dekat Kartasura. 14 tahun yang lalu, terjadi kerusuhan besar-besaran di seluruh pelosok Indonesia. Saya masih terlalu muda untuk paham apa sebabnya. Tapi saya sudah cukup umur untuk bisa merasakan kengerian yang menyelimuti kota. Bayangkan saja, kalau kamu tinggal di sebuah kota kecil yang nyaman dan damai, lalu pada suatu ketika, BOOMM!!! Kerusuhan terjadi. Pembunuhan, perkosaan masal, penjarahan, penyiksaan dimana-mana.

Ada beberapa jenis orang yang bisa dilihat waktu itu:
  1. Orang yang meminta tolong alias korban
  2. Orang yang kesurupan dan melakukan hal-hal biadab
  3. Orang yang bingung dan ketakutan
Saya dan keluarga saya rasanya termasuk golongan ketiga. Syukurlah diantara kami nggak ada yang menjadi korban maupun perusuh (sungguh saya bersyukur sedalam-dalamnya kepada Tuhan atas keadaan ini, tanpa mengurangi perasaan duka saya terhadap para korban). Tegang sekali rasanya waktu itu.

Saya nggak akan menceritakan detail yang terjadi, karena pasti sudah banyak cerita yang beredar. Saya cuma mau cerita yang saya rasakan saat itu.

Terbayang nggak? Berada dirumah, mendengar teriakan-teriakan dan ketakutan ditengah kota yang berkecamuk?

Salah satu yang terlihat jelas dari sisi rumah saya adalah bioskop yang terbakar. Bioskop itu sedang memutar film, jadi ya wajar kalau banyak orang. Para manusia kesurupan menutup semua jalan keluar dari bioskop. Saat orang-orang terkunci dan panik di dalam, mereka membakar gedung bioskop, bersama orang-orang yang terkunci didalamnya. Lalu teriakan menggema di langit sore itu.

Saya nangis ndeprok waktu melihat asap mengepul dan kemudian lamat-lamat mendengar cerita itu. Orang-orang mengira saya anak kecil yang ketakutan. Iya sih, saya takut. Tapi lebih ke marah. Bahkan pada usia semuda itu saya tahu kalau mereka yang berada di dalam bioskop itu korban, tidak tahu apa-apa. Dan mereka yang kesurupan itu biadab. Sungguh biadab!

Sampai saat ini, bila berada di ruang tertutup yang gelap, nafas saya seakan terhenti. Dada saya sesak rasanya dan air mata saya mengalir. Kalau kata teman-teman dari fakultas Psikologi: saya menderita fobia gelap. Saya nangis nggak bisa ditahan. Soalnya saat berada dalam situasi tertutup dan gelap, yang terbayang adalah kejadian 14 tahun silam.

Ah...kekerasan itu dampaknya bukan hanya luka fisik. Tapi dampaknya lebih dalam dan lama. Bahkan anak kecil yang terpaksa menyaksikan kekerasan akan terus merasakannya hingga dewasa.

Dan sampai kini saya masih terus bertanya-tanya. Mereka para pelaku kekerasan 14 tahun silam, bagaimana perasaan mereka sekarang? Berada dimana mereka sekarang? Apakah sekarang mereka tetap melakukan kekerasan, hanya saja sekarang mereka menggunakan alasan dan kedok yang lain?

Bagaimana mereka mengajarkan mengenai cinta kasih dan toleransi kepada anak-anak mereka?

Indonesia 14 tahun yang lalu, disiksa karena perbedaan suku.

Indonesia kini, disiksa karena perbedaan keyakinan.

Bukan hanya siksaan fisik. Tapi siksaan mental dan intelektual juga, dalam bentuk pembatasan, pelarangan, dan pengkotak-kotakan yang semena-mena. Kalau saya punya anak nanti, akankah saya bisa melindunginya dari kemungkinan terjangkit fobia karena menyaksikan kekerasan?

Kapan ya, manusia bisa berevolusi sempurna dan bertindak selayaknya citra Tuhan? Bukan bertindak seperti binatang seperti sekarang...

Sunday, May 6, 2012

Sebenarnya saya hanya berniat bercerita tentang pertemuan saya dengan aktivis lingkungan hidup yang merokok, tapi kemudian saya terbawa perasaan dan malah berbicara mengenai kekerasan.

oktomagazine.com


Apakah kamu seorang perokok?

Saya tidak merokok. Tapi saya juga bukan pembenci perokok.

Di postingan saya sebelum-sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa saya benci terhadap orang yang fanatik berlebihan terhadap suatu hal. Apapun hal itu! Terkadang seseorang menjadi gila dan bertindak merusak dan menyakiti orang lain, ketika melihat orang lain berbuat dosa. Kenapa? Sejujurnya, hal itu tidak masuk sama sekali dalam logika saya. Sampai sekarang saya masih terus bertanya-tanya: mengapa orang membunuh sesamanya yang berbeda agama atau keparcayaan? Mengapa orang bisa begitu benci terhadap kaum gay dan lesbian? Mengapa orang-orang harus mengarak bugil dan memukuli orang yang kedapatan berada di rumah bordil? Bukankah itu bukan urusan mereka? Kalau hal yang mereka lakukan dianggap dosa di mata Tuhan, kenapa orang-orang itu yang ketakutan dan menjadi gila lalu berbuat kekerasan?

Bagi saya, kalau menurut saya perilaku seseorang itu berdosa, biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhan. Kalau Tuhan begitu membenci perilaku mereka, biar Tuhan yang mengurusnya. Tugas kita sebagai manusia adalah mencintai sesama, bukan menghakimi.Siapa kita sampai bisa besar kepala dan menganggap diri sendiri adalah perpanjangan tangan tuhan?

Saya benci orang munafik, yang berkata bahwa mereka membenci orang yang melanggar perintah tuhan, tetapi mereka sendiri juga melakukan kekerasan yang juga berarti melanggar perintah Tuhan.

Saya tidak benci berlebihan, apalagi mempunyai keinginan membunuh terhadap seseorang yang berbuat dosa terhadap Tuhan. Tapi saya sangat tidak suka dan merasa terganggu bila seseorang melakukan sesuatu yang merugikan/mengganggu orang lain.

Wow, saya sebenarnya tidak bermaksud menulis tipok seberat dan sesensitif itu. Tapi mendadak saja mengalir, karena topiknya sedikit berhubungan. Sebenarnya saya ingin berbicara mengenai Rokok.

Bagaimana pendapatmu tentang perokok?

Saya tidak membenci perokok, meski saya bukan perokok. Pacar saya, teman dekat saya, teman-teman saya, bahkan beberapa orang di keluarga saya adalah perokok. Saya bisa menghormati mereka selama mereka juga menghormati saya. Dan selama ini, mereka bisa menghormati keputusan saya untuk tidak mengotori paru-paru saya dengan rokok, dengan cara tidak merokok di dekat saya apabila saya keberatan. Mereka juga tidak merokok di dekat anak kecil, tidak merokok di kawasan bebas rokok, tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat. Jadi saya tidak punya alasan untuk protes.

Tetapi beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang mbak-mbak perokok. Nggak masalah sebenarnya, kalau dia hanya merokok saja. Bahkan kalau dia merokok di depan saya, dan saya merasa terganggu, saat itu saya akan memilih untuk diam dan mengalah. Karena saya tidak ingin menciptakan keributan dengan orang yang tidak dikenal.

Tapi lalu di mulai mengajak saya berbicara. Dan tebak tentang apa? Tentang lingkungan hidup! Ternyata dia tergabung dalam salah satu komunitas sepeda. Saya tidak tahu juga apa yang membuat dia mengajak saya berbicara, padahal kami hanya kebetulan sama-sama antri ATM. Mungkin karena bosan dengan antrian yang mengular.

Dia memulainya dengan bertanya, mengapa saya memilih mengendarai kendaraan bermotor?

Saya menjawab, karena praktis saja. Saya butuh alat transportasi yang cepat dan nyaman untuk mobilitas saya sehari-hari.

Lalu dia mengangguk-angguk. Menyalakan rokok, dan merokok dengan santai didepan saya. Saya otomatis menutup hidung dengan tangan dan mengernyitkan dahi. Itu benar-benar spontan. Bayangkan ada orang yang tiba-tiba menyalakan rokok dihadapanmu, menghadap kearahmu.

Lalu dia mulai bercerita bahwa asap kendaraan bermotor itu merusak lingkungan, bahwa dia dan komunitas memilih sepeda sebagai alat transportasi karena lebih ramah terhadap lingkungan.

Saya menjawab, "wah, bagus itu mbak. Mungkin memang gerakan bersepeda harus didudukung. Saya tertarik untuk bersepeda kapan-kapan. Mungkin saya akan latihan dulu karena bersepeda itu butuh kebiasaan. Tapi bisa minta tolong matikan rokoknya, mbak? Saya terganggu dengan asap rokokmu".

Saya mengucapkannya sambil tersenyum dan dengan nada ramah.

Tapi si mbak-mbak aktivis lingkungan hidup mengabaikan saya. Dan terus asik berceloteh mengenai lingkungan, mengenai sampah industri, mengenai polusi karena kendaraan bermotor, dan tentu saja tidak lupa mengkritik orang-orang yang egois dan memilih memakai kendaraan bermotor untuk transportasi dalam kota.

Iya sih, mungkin bagi para pesepeda itu, kesehatan dan kenyamanan pernafasan saya sangat tidak penting bila dibandingkan dengan pepohonan.

Sekali lagi, saya tidak membenci aktivis lingkungan hidup atau komunitas sepeda. Bahkan pacar saya adalah seorang anggota komunitas sepeda juga. Dia sering mengajak saya bersepeda di minggu pagi. Tapi, lihat kembali tulisan saya yang paling atas. Saya benci orang munafik. Ironis sekali kan, mengkritik seseorang karena orang tersebut menggunakan kendaraan bermotor yang asapnya mencemari lingkungan, tapi dia sendiri sambil membawa rokok?

Hahahaa...

Obrolan terputus karena si mbak masuk ke bilik ATM, dan saya menunggu diluar. Dan saya menghembuskan nafas lega. Obrolan selesai. Saya benar-benar sedang tidak ingin berbicara atau beradu pendapat dengan orang-orang semacam itu. mungkin di situasi lain, saya akan dengan senang hati berkenalan dan ngobrol dengannya. Tapi hari itu sangat panas, dan saya masih banyak urusan.

Ternyata, kasus belum ditutup. Saat keluar, masih dengan menenteng rokok, dia mengarahkan jari kepada saya dan berkata, "ingat, cintai lingkunganmu. Bijaklah dalam memilih alat transportasi."

Karena saya orang yang menyebalkan dan tidak mau kalah, maka saya balas mengarahkan telunjuk dan berkata: "kamu juga. Cintai lingkunganmu. Bijaklah dalam memilih cara untuk bersenang-senang. Setidaknya pakailah cara yang tidak berasap. Dan hei, setidaknya saya tidak mengarahkan knalpot motor saya langsung ke muka kamu."

Dan orang-orang di sekitar kami tertawa mengiringi kepergiannya.

Monday, April 30, 2012

Friday, April 27, 2012

Mendingan beli Barang Second daripada Barang KW!!! Say No to KW!

http://agendabandung.com

 
Ada yang tergila-gila garage sale disini?

Saya maniak garage sale :D.

Mungkin bagi sebagian orang, apalagi ceweq akan sangat "euuhh yeuk," *sambil meringis jijik* ketika mendengar kata garage sale. Bahkan salah seorang teman saya ada yang bilang, "kaya nggak mampu beli yang baru aja". Hmm..kalau memang nggak mampu, memangnya kenapa? :D

Saya cinta banget sama Fashion dan Make-up. Tapi saya nggak mau menjadi orang yang saking kecanduan sama sesuatu, sehingga mencurahkan sebagian besar uangnya untuk hal tersebut. Saya masih punya banyak kebutuhan lain, diantaranya saya harus menabung, kan? Saya punya cita-cita membina rumah tangga yang bahagia dan sehat bersama pacar saya :D. Dan itu tentu saja melibatkan proses pembuatan anak, memiliki anak, dan membesarkan anak. Anak butuh makan, biaya pendidikan, belum lagi kalau anak saya ternyata ketularan mamanya yang centil jadi pecandu makeup dan fashion ^^, akan makin banyak biaya yang harus dikeluarkan. Membahagiakan anak juga cuma salah satu hal, masih banyak kebutuhan-kebutuhan lain. Itulah kenapa saya harus menabung, dan nggak mau menghabiskan terlalu banyak uang sekarang.

Tapi saya suka sekali baju-baju lucu itu. Dan makeup mahal juga :(.

Untuk bisa mendapatkan baju-baju lucu dan makeup mahal tapi masih on budget, saya kadang suka blogwalking ke beauty blog-beauty blog. Saya sering sekali menemukan barang-barang prelove atau second fashion item dengan kondisi yang masih sangat bagus (baru dipakai sekali dua kali), dengan harga yang sangat-sangat dibawah harga pasaran. itulah kenapa saya juga cinta dengan komunitas Beauty Blogger :). Selain blogwalking, saya juga suka jalan-jalan ke Flea Market-Flea Market di berbagai kota. Seringkali diantara tumpukan yang tidak terdisplay dengan baik ^^ tersebut, saya menemukan barang bagus, nggak jarang juga barang bermerk, dengan harga *ahem* sangat terjangkau.

Beberapa orang sih mengaku gengsi. Tapi gengsi kenapa ya? Beberapa orang yang mengaku gengsi beli barang di flea market itu malah memilih untuk memakai barang palsu atau KW (Pfffttttt...). Jujur, saya sih mending beli barang second daripada barang palsu. Saya lebih malu pakai barang palsu daripada pakai barang second. Karena dengan beli barang palsu (tas, baju, dan lain-lain), itu berarti kita nggak menghargai karya seseorang. Hal kecil saja, misalnya, kita marah kan kalau melihat tweet kita di copy paste oleh orang lain? Nah..itulah! Kalau yang kaya gitu aja marah, bayangkan aja kalau design tas atau baju kita di copy paste orang lain. Saya sih nggak mau mendukung tukang plagiat. Jadi, say no to KW. Mau KW 1, KW 2, KW 3, sampai KW super, tetep aja KW. Palsu!

Itu baru baju atau item fashion. Lha, kalau kosmetik? Selain nggak menghargai si pencipta asli, mau pakai kosmetik KW yang nggak jelas bahan-bahan yang terkandung didalamnya? Namanya KW pasti ilegal donk ya, nggak mungkin secara standart kesehatan sudah diverifikasi. Kalaupun ada nomor BPOM, sudah bisa dipastikan itu nomor BPOM palsu. Masih banyak sih kosmetik yang aman dan murah. Nggak perlu beli barang palsu. Lagian, masa cakep-cakep pakai kosmetik KW. Nggak jadi cakep ah, muka KW gitu :D *Jadi kalau saya ini, muka second? Abaikan*. Kalau nggak mampu beli kosmetik mahal, ya beli aja yang murah tapi jelas aman. Atau nungguin preloved juga nggak dosa sih. Jadi sekali lagi, say no to KW!

Dan terkadang saya berpikir-pikir nih, apa salahnya memakai barang second? Bukannya bagus ya? Mengurangi sampah industri yang kian hari semakin menumpuk dan membuat bumi kita nggak nyaman. Toh barang-barang yang dijual juga masih sangat bagus dan sangat layak untuk dipakai. Sayang banget kalau di buang kan?

Di luar negri, sebenarnya Garage Sale ini sesuatu yang biasa. Mereka melakukan itu karena nggak kepingin melihat barang yang masih bagus terbuang cuma-cuma, bukan masalah mampu nggak mampu beli yang baru. Kenapa harus membuang sesuatu yang masih layak dipakai? Cuma memang sih ya, orang Indonesia emang rata-rata gengsinya gede. Eits..jangan protes! Gengsi tinggi orang Indonesia itu nggak selalu negatif. Tapi untuk yang satu ini (masalah malu pakai barang second) menurut saya adalah sisi jeleknya.

Kalau mau jeli melihat sekitar, sebenernya banyak banget barang bagus second yang dijual. Dan juga banyak lho event-event yang mewadahi garage sale ini. Diantaranya event yang akan di buat oleh @LadiesDay_Event pada tanggal 10 Mai di Own Cafe Sagan, yogyakarta. Disana kita bisa melihat banyak barang yang lucu-lucu dan menarik, yang sangat sayang kalau dibuang. Saya juga akan berada di sana, lho ^^. Jadi mungkin kita bisa kopi darat dan ngobrol-ngobrol asik disana :).

Sampai ketemu di garage sale.. :D

Wednesday, April 25, 2012

Saya Belum Bisa Meninggalkan Blog Ini, dan Kali Ini Ingin Bercerita Mengenai Oom-Oom Senang

http://ichur.com/page/8/


Wah, ternyata saya nggak bisa meninggalkan blog galau saya yang satu ini (__"). Dan memutuskan untuk tetap memelihara dua buah blog. Walai di blog sebelah pada post ini, saya menulis bahwa hanya akan aktif menulis di Racun Warna-Warni saja. Becoswat? Becos ternyata banyak sekali yang masih ingin saya ceritakan diluar makeup, dan yang nggak mungkin saya ceritakan di beauty blog, walaupun itu juga merupakan blog pribadi saya.

Saya berusaha menampilkan diri saya apa adanya baik di blog ini maupun blog itu, tapi di Racun Warna-Warni, entah kenapa, kok saya merasa punya batasan-batasan tertentu yak? Ada hal-hal yang nggak mungkin bisa saya ceritakan di beauty blog. Contoh saja ya:

Minggu lalu saya janjian dengan teman-teman untuk nongkrong-nongkrong di suatu cafe di Jogja (maap namanya disensor). Tapi seperti biasa, teman-teman saya mengikuti waktu WIB, Waktu Indonesia Bersuka-suka, jadi suka-suka mereka, janjian jam 8 suka-suka kalau mau datang jam 11 *toyor satu-satu*. Jadi malam-malam jam 8, saya sampai duluan di cafe. Dan tebak, cafenya sepi. Saya memilih lantai dua, karena lebih privat untuk acara ngobrol nggak sopan plus cekakak-cekikik biadab bersama teman-teman saya yang bar-bar.

Lantai dua cuma ada saya dan satu orang mas-mas berkumis tipis (om-om lebih tepatnya) yang sedang asik mantengin layar laptop. Setelah mencatat pesanan rewel saya (mie-nya jangan kelembekan, jus melonnya gag dikasih gula, pakai sumpit jangan sendok, bla bla bla) si waiterpun turun kebawah, karena dapurnya di bawah. *apakah perlu saya jelaskan untuk apa waiter turun kebawahh???*.

Kembali saya berduaan dengan om-om berkumis tipis.

Saya membuka laptop saya, dan berselancar di dunia maya. Saya cuekin om-nya, lagian nggak gantheng dan kelihatannya nggak bawa duit. #eh? Tapi si om mendekati saya dan menyapa, "selamat malam". Ya sebagai anak yang baik, saya harus sopan dong terhadap bapak-bapak yang menyapa. Lalu saya jawab, "malam, Pak. Maaf ada apa ya?" Saya sengaja memanggil "pak" dan bertanya "maaf ada apa" untuk menciptakan batasan. Mengerti? Bagus.

Ternyata si Om eh Bapak malah duduk di depan saya, dan mengajak saya ngobrol ngalor ngidul. Saya cuma "hehe", "hmmm", "oh", pokoknya bereaksi jengah, untuk menyatakan saya tidak tertarik dan merasa terganggu. Obrolan sempat terputus oleh waiter yang mengantarkan pesanan saya. Mungkin karena merasa dicuekin habis-habisan, si om akhirnya berkata:

"Begini, mbak. Saya sih nggak pengen basa-basi kelamaan, soalnya mbaknya juga kayaknya nggak tertarik dengan hal lain. Jadi langsung saja ya, kita ngomongin harga. Harga seperti biasanya kan?"

WHAT THE.........

Nah, pada titik ini perhatian saya langsung tertuju sepenuhnya pada si Bapak hidung belang kumis tipis. Harga? Hmmm...gini ya, saya bukannya mau men-judge dan merendahkan profesi wanita penghibur atau apalah sebutannya. Cuma kenapa sih orang nggak bertanya dulu sebelum menyimpulkan kalau cewek-kaos-merah-dan-nggak-pakai-maskara-yang-dia-lihat-di-meja-seberang itu wanita penghibur om senang?

Saya berusaha bersikap netral. Tarik nafas, hembuskan, tarik nafaaaasss, hembuskan. Saya berusaha untuk nggak marah. Saya berusaha saja bersikap netral seolah-olah si om salah mengenali saya sebagai seorang dokter gigi, atau seorang pemain sinetron. Saya bilang saja dengan tenang, kalau saya bukan seperti yang dia pikir, da, kalau saya disini sedang menunggu teman-teman saya yang datang terlambat.

Tapi si om nekat. Dia bilang, daripada menunggu teman yang nggak jelas datang kapan, mending saya pergi sama dia katanya. Ihhh...apakah??? Saya masih menolak halus sambil berkemas-kemas *by the way, saya berkemas karena mau pindah ke lantai bawah dan menjauhi si om, bukan mau ikut si om*. Tapi si om semakin nekad dan mendesak, bahkan berani memegang laptop saya, untuk menghalangi saya berkemas.

Saya terpaksa bersikap kasar, "TOLONG YANG SOPAN YA, PAK!" Dan saya melupakan laptop saya, langsung turun dan mencari karyawan cafe untuk melaporkan kejadian tadi. Saya bergegas menuju meja kasir, yang jelas ada orangnya. Tapi sebelum saya bicara apa-apa, si om senang sudah turun, menaruh uang di meja kasir lalu pergi. Dan ketika melewati saya, dia membisikan makian.

Saya bengong sesaat, lalu tiba-tiba pundak saya di tepuk dari belakang. Ternyata salah seorang teman saya datang. Tapi sayangnya, nafsu hahahihi saya sudah menguap. Di tawar om hidung belang sekaligus dimaki dalam satu hari yang sama itu menguras energi, Jendral. Jadi saya cuma duduk dengan tatapan menerawang melihat teman-teman saya yang asik bergojek kere semalaman.

Saya tidak tahu, pelajaran apa yang bisa saya petik dari pengalaman saya ini. "Jangan janjian sama teman yang suka datang telat" Atau "jangan datang terlalu ontime saat janjian dengan teman yang selalu datang telat"? Yang jelas, untuk waktu yang nggak bisa ditentukan, saya nggak akan datang ke cafe itu lagi.

Nah, cerita itu yang gatal pingin saya bagi. Menarik sih, soalnya baru kali ini saya ditanyain harga saya berapa.Pengalaman semacam ini saya rasa nggak mungkin saya bagi di Blog sebelah. Kalau saya nekad, bisa-bisa mbak-mbak cantik follower blog sebelah pada kabur >'<. Jadi ada baiknya saya tetap mempertahankan blog ini untuk tempat saya menggalau buta.

**FYI, laptop dan barang-barang saya nggak ilang kok. ^^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...