Translate

Tuesday, August 26, 2014

Mahluk-mahluk Alpha

Dudut dan luka di telinga kanannya.
Perkenankanlah saya memperkenalkan Dudut,

seekor kucing Alpha di daerah perumahan saya. Pejantan berwarna oranye terang dengan taby yang lucu, serta suara ngeongan yang seperti bayi. Badannya tidak gemuk tapi bertulang besar, liat dan kekar. Pada cuping telinga kanannya terdapat bekas luka hasil dari perkelahian dengan pejantan lain, yang justru menambah kegagahannya.

Sebagai kucing Alpha, Dudut mempunyai hak-hak istimewa yang mau tidak mau diamini dalam diam oleh sejumlah kucing jelata di wilayahnya. Diantaranya: berhak untuk buang air dimana saja di wilayah tersebut tanpa mengubur tahi, berhak mengklaim makanan apapun yang dia lihat walau kucing lain terlebih dahulu menemukannya, berhak mengawini betina manapun pada daerah kekuasaannya, dan berhak menentukan tempat dimana dia mau beristirahat, pun bila tempat tersebut sudah terlebih dahulu dipakai oleh kucing jelata, cukup mendengar ngeongan Dudut yang seperti bayi, si jelata harus menyingkir.

Dudut menandai daerah kekuasaannya dengan bau air seninya yang disemprotkan pada pojok-pojok kawasan.

Berbagai hak tentunya dibarengi dengan kewajiban. Dudut berkewajiban menjaga agar para jelata tetap aman dari serangan kucing luar kawasan. Dudut juga menjaga agak kawasannya tidak terlalu penuh sesak oleh kucing-kucing lain, sehingga kucing-kucing jelatanya bisa tidur nyaman dan makan cukup.

Sebagai pihak luar yang netral dan bahkan bukan kucing, saya menilai Dudut adalah sesosok Alpha yang berkarisma, punya nilai moral, dan adil. Dudut tidak menyalah gunakan kekuasannya. Sebagai Alpha dia tidak pernah menyerang kucing-kucing jantan yang masih bayi, seperti yang biasa saya lihat dilakukan oleh alpha-alpha lain. Dudut juga tidak pernah merebut makanan dengan kekerasan. Jelatanya cukup mencintainya dan tahu diri, sehingga tanpa ditempelengpun, mereka sudah akan merelakan makanan mereka untuk Dudut.

Tapi Dudut tentunya bukan Tuhan bukan Dewata. Dudut hanyalah sesosok kucing, dan kabarnya, tidak ada yang sempurna selain Tuhan. Dudut tetaplah Alpha yang paling baik dimata saya, tapi tentunya sebagai mahluk fana dia tidak sempurna.

Saya teringat sesosok Alpha di suatu kawasan yang lebih luas pada jaman dahulu kala. Dia menyelamatkan jelata kawasan tersebut dari penjajahan asing, memandirikan, dan mengusir segala campur tangan alpha lain yang kejam, mengklaim kawasan tersebut sebagai milik bersama. Merdeka! Untuk beberapa saat dia dicintai jelata. Diamini sebagai Alpha seumur hidupnya di kawasan. Tapi kekuasaan membutakan hatinya. Menjelmalah si Alpha menjadi diktator yang harus dituruti maunya, dan mengambil betina sebanyak yang dia suka.

Rakyat jelata yang semula mencintainya habis-habisan mulai jengah. Kemudian munculah Apha baru dari kalangan jelata, Alpha yang baru saja menunjukan ke-Alpha-annya. Para jelata muda bahu-membahu membantu sang Alpha baru untuk merebut tahta Alpha lama. Alpha yang baru ini begitu ambisius sekaligus cerdik. Dengan segala cara, kekerasan, adu-domba, pemalsuan sejarah, bahkan diam-diam berkerja sama dengan Alpha asing kejam yang dulu pernah menjajah jelata kawasan, akhirnya Alpha baru berkuasa. Para jelata menutup mata karena sudah muak dengan Alpha lama yang kolot dan berbetina banyak. Jelata muda bersorak-sorai menyambut Alpha baru.

Tidak usah terlalu lama menunggu, munculah taring si Alpha. Pameran kekuasaan dimana-mana. Cakarnya mengoyak daging para jelata yang (walau hanya sedikit saja) berkata tidak padanya. Kekejamannya terasa mendirikan tengkuk, karena dia bisa meminum darah jelata-jelata pembangkang, sambil memamerkan senyum ramah dengan taring belepotan darah pada jelata-jelata yang tunduk. Keramahan yang berdarah.

Betapa mengherankan, Alpha yang begitu dicintai karena menyelamatkan jelata dari kekejaman Alpha asing kemudian menjelma menjadi Alpha kolot dan gelap mata. Betapa mengejutkan, Alpha yang awalnya didukung penuh oleh para jelata muda kemudian malah mengebiri dan mencabut lidah para jelata muda.

Dudut yang gagah dan imut bukanlah sosok yang sama seperti Alpha lama dan Alpha baru. Dia punya gaya dan karismanya sendiri. Dia menjadi Alpha tanpa perlu adegan pameran kekuasaan. Dia Alpha dalam kesederhanaannya. Saat ini jelata mencintainya.Saking cintanya sampai para jelata rela mencakar sesama, bahkan keluarganya sendiri, yang berani mengkritik Dudut.

Saya sungguh berharap bahwa Dudut akan tetaplah Dudut yang bijak, sederhana, dan dicintai oleh jelata kucing kawasan perumahan saya. Tapi saya berharap juga para jelata tidak terlalu terlena mendewakan Dudut. Dudut memang sangat berkarisma, tapi mungkin suatu saat dia perlu diceples sendal karena mencuri ikan. Karena Alpha yang begitu dicintai karena menyelamatkan jelata dari kekejaman Alpha asing bisa menjelma menjadi Alpha kolot dan gelap mata. Karena Alpha yang awalnya didukung penuh oleh para jelata muda kemudian malah bisa mengebiri dan mencabut lidah para jelata muda. Walau tentu saja kita berharap banyak bahwa Dudut tetaplah Dudut yang sederhana, bijak, dan berkarisma sampai akhir masa Alpha-nya.

"Miaw!"

Friday, August 22, 2014

bebersih dashboard

Semalam saya bersih-bersih dashboard blogger.

Cerita ini berawal ketika awal-awal saya pindah ke Jakarta dan pindah rumah. Saya bukan tipe orang yang praktis dan minimalis, walaupun saya saat ini sedang mencoba menjadi praktis. Barang saya banyak, termasuk berbagai macam pernak-pernik tanpa fungsi, bahkan yang sudah sangat jelek tapi masih menyimpan muatan memori. Saya bukan orang yang bisa dengan gampang membuang barang-barang.

Awalan pindah saya bener-bener stres. Gimana sih cara memindahkan 10 tahun hidup saya di Jogja ke dalam kotak-kotak kardus, koper, dan ransel, yang kemudian di bawa ke Jakarta? Pelan tapi pasti akhirnya saya pindahkan hidup saya, walau tentu saja masih ada jejak-jejak yang tertinggal di kota lama. Tapi tak apa karena itu perlu.

Ketika saya mulai menata kehidupan baru di kota baru, saya stres lagi. Kehidupan baru ini tidak semata-mata hidup saya, karena saya harus berbagi. Kondisi dan situasi kehidupan baru saya juga kurang kondusif untuk menyimpan berbagai pernik tanpa fungsi. Di tengah stres saya, bapak saya berkata: "Kamu harus bisa memilih. Mana yang harus dibuang dan mana yang disimpan. Sesuatu yang tidak berguna kalau disimpan cuma akan menjadi beban."

Sedikit demi sedikit saya menuruti nasehat beliau. Tapi sungguhpun saya berusaha, saya bukan orang yang praktis dan minimalis.

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol-ngobrol dengan kawan blogger saya, Dika. Kebetulan kami punya masalah yang sama tentang dunia blogging, yaitu kurang semangat. Kami sama-sama tidak lagi bersemangat baca-tulis. Usut punya usut, sebenarnya kami bukan mengalami susut semangat, melainkan hanya peralihan minat. Hal-hal yang awalnya kami bilang menarik, saat ini mematikan selera. Hal-hal yang awalnya tidak kami lirik, saat ini terasa menggelitik.

Pun begitu dengan blog yang kami follow. Dulu adalah suatu ide bagus rasanya ketika mem-follow blog A. Saat ini selera saya berubah, dan ketika melihat newpost blog A pada dashboard blog saya, biasanya cuma saya scroll tanpa saya klik. Saya tidak lagi berminat untuk membaca blog A.

Beberapa hari yang lalu, saya memandangi dashboard blogger tanpa nafsu. Saya berharap menemukan konten menarik untuk saya baca, tapi ternyata setelah 3 halaman saya lalui birahi saya belum juga terungkit. Akhirnya saya beralih ke suatu forum komunitas blogger anu (Nggak, saya nggak aktif!). Lalu melihat-lihat list blog yang ada di sana, yang topiknya biasanya bukan kegemaran saya dan juga bukan pilihan yang biasanya saya tuliskan, dan saya menemukan banyak blog yang menarik minat saya. Saya mulai keasyikan blog walking dan klik follow.

Semalam, saya kembali memandangi dashboard blogger. Dan saya pening. Banyak sekali topik-topik yang saya tidak suka yang berjejalan dan menutupi topik-topik yang justru saya cari. Akhirnya saya memutuskan untuk membersihkan dashboard saya. Saya unfollow blog yang:
  1. Saya tidak suka dengan blog tersebut, saya jarang bersemangat membaca kalau blog tersebut di update, dan saya tidak kenal penulisnya (karena kalau kenal biasanya memicu perselisihan. Padahal yaelah cuma blog. Tapi sudahlah saya sedang nggak butuh drama.)
  2. Post terakhir blog tersebut ada pada tahun 2013. Kecuali yah kalau blog tersebut sangat saya suka dan saya berharap si blogger bakalan ngeblog lagi.
  3. Isi postingan blog yang bersangkutan membuat perasaan saya tidak enak. Mungkin karena isinya menjelek-jelekan orang lain (secara nomention tentu saja!), kritik terhadap cara berpakaian atau cara hidup orang lain, pembelaan membabi buta tanpa logika terhadap suatu agama/capres, share sesuatu yang memprovokasi dan belum tentu benar (bahkan biasanya sumbernya pun dia tidak tau!). Untuk poin ketiga ini kenal-nggak kenal saya unfollow :D
  4. Alasan simpel: saya ilfeel sama blogger-nya :D. Untuk alasan agar tidak salah alamat, saya memilih tidak menjelaskan perihal sebab-sebab ke-ilfeel-an saya.
Tentunya saya masih berpegang pada prinsip bahwa blog adalah jurnal pribadi. Setiap blogger punya hak untuk menuliskan apapun sejauh tidak merugikan orang lain. Saya pun tidak bilang kalau blog yang saya unfollw itu jelek dan tidak berguna. Bisa saja hal yang tidak berguna bagi saya menyelamatkan hidup orang lain. Bisa saja memang tidak berguna bagi orang lain namun punya arti yang besar bagi pemiliknya. Hanya saja blog-blog tersebut merupakan blog yang tidak saya pilih untuk menjadi bacaan saya.

Sekarang bersih dashboard saya agak lebih padang walau belum bersih sekali.

Thursday, May 29, 2014

Pilihan

Halo Wanita,
Bila pada suatu ketika, kamu mendapati dirimu menghadapi dilema, karena harus memilih suatu hal yang besar dalam hidupmu, apa yang kamu lakukan? Kalau saya, mungkin karena saya wanita yang pada dasarnya wanita itu senang bercengkrama, atau mungkin karena saya adalah saya yang suka kepo, saya akan melakukan curhat kesana dan kesini.

Jadi suatu ketika itu datang dihadapan saya, dengan wujud dua orang laki-laki yang mungkin bisa mengubah hidup saya. Apakah saya harus memilih si A atau si B? "Satu bulan! Take your time!" Kata mereka. Lalu saya mengambil waktu untuk berpikir, mengamati, dan merenungi. Dan seiring berjalannya waktu saya bukannya makin tau apa yang saya mau malah semakin galau.

Maka kemudian saya melakukan curhat, tidak hanya kepada satu orang, tidak hanya kepada satu kelompok. Tapi saya obral cerita kesana, kesana, kesana, kemana-mana. "Beb, aku galau, beb!" Begitu biasanya curhat dimulai. Dan karena teman-teman saya mungkin adalah kepoers sejati, atau mungkin hanya karena mereka teman yang baik, atau sesungguhnya mungkin mereka adalah orang yang baik pada dasarnya, mereka semua meluangkan waktu untuk mendengarkan kegelisahan saya.

"Jadi, pilih si A atau si B?"

Sebenarnya mereka bukan pilihan yang seimbang kalau kata saya. Dua-duanya jelas sama-sama orang hebat. Tapi pria yang satunya sudah terlalu sering mematahkan hati banyak orang, sehingga orang-orang jelas tidak simpatik sama dia. Boleh dikatakan, kalau saya buat list kejelekan mereka berdua yang kemudian saya jajarkan, saya akan langsung bisa menentukan tambatan hati, karena oh...sungguh deh, pria yang satu itu begitu menyedihkan masa lalunya.

Dan taukah, dari semua orang yang saya tanyai, 100% menjawab: "sudah jelaslah kamu harus memilih si A."

"Kenapa?"

"Karena si B begitu tak tertolong."

Semakin saya kejar dengan "kenapa?", akan semakin panjang list kejelekan si B.

Tapi taukan kalian, terkadang sebagai wanita saya ingin memilih pria yang baik. Karena pada dasarnya dia baik. Bukan baik karena disandingkan dengan orang lain yang jauh lebih buruk.

Dan semakin mereka bersemangat menjelek-jelekan si B

"suka main wanita"
"tidak setia"
"sombong"
"kentutnya bau"
"tidak suka kucing"
"kurang ramah"
"tidak punya selera humor"
"tidak punya akun instagram"

Semakin saya bertanya-tanya, sebenernya layakkah si A saya pilih? Apa sih kebaikan si A, selain bahwa si B lebih jelek darinya?

Dan tahukan kalian kalau saya selalu punya pilihan ketiga, yaitu diri saya sendiri?

Wednesday, December 11, 2013

Pelampiasan

Blog saya yang ini bener-bener kayak diary. Bukan karena saya menuliskan apa-apa yang saya alami atau rasakan sebenarnya, tapi karena isi hati saya tercermin melalui cara menulis dan gaya bahasa yang saya pakai.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya nggak benar-benar menuangkan pemikiran saya di sini. Ya, saya memang meluapkan rasa sayang, sedih, senang, bahkan marah di sini. Semua terlihat melalui bahasa yang saya gunakan. Tapi saya nggak benar-benar menuliskan apa yang membuat saya marah, sedih, senang, dan sebagainya.

Misalnya, pada situasi normal, saya nggak akan marah atau membalas perkataan komen kejam di blog saya. Jujur saja, dari awal saya bikin blog-pun sudah ada lho komen kejam-komen kejam. Jadi saya sudah semacam "terbiasa" mendengar komen kejam. Pun di kehidupan nyata saya juga membiasakan diri untuk mendengar tidak hanya yang baik tentang diri saya.

Cuma memang masalah ketepatan waktu saja. Komen kejam yang saya komentari tersebut muncul pada saat saya berada pada situasi yang sulit. Permasalahan pribadi yang sebenarnya nggak berhubungan dengan dia atau mereka yang berkomentar kejam di blog ini. Sementara komen kejam yang lainnya muncul pada saat hati saya tidak rusuh, sehingga saya bisa menyikapi dengan kepala dingin dan bahkan tawa.

Beberapa kali saya meluapkan kemarahan-kemarahan. Marah-marah sama kejadian Mei 98, marah-marah sama seorang teman yang jahat kepada saya, marah-marah sama follower blog, marah-marah sama orang yang iyik ngomentarin bahasanya Vicky, tapi benarkah saya marah karena hal-hal tersebut?

Saya rasa, saya adalah tipe orang yang butuh pelampiasan. Saya membayangkan kalau saya tidak bisa menulis seperti ini. Kemarahan dan kesedihan saya bisa saja tersalurkan ke hal lain yang lebih merugikan.

Teman-teman, pernah nggak sih merasa marah akan suatu hal tapi nggak bisa mengungkapkan? Dan pada akhirnya hal lainlah yang kemudian menjadi pelampiasan?

Thursday, November 21, 2013

Bisakah Kita Menilai Seseorang itu Nggak Bahagia dan Pilihan Hidupnya Salah?

Saya punya seorang teman, yang nikah sama perempuan pilihannya. Perempuan pilihannya tersebut kebetulan single parent berusia sangat muda. Saya nggak bermasalah dengan hal seperti itu sih. Semua orang punya masa lalu. Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing. Karena saya nggak pernah hamil diluar nikah bukan berarti saya lebih baik dari perempuan-perempuan yang pernah hamil di luar nikah. Maksud saya, siapapun nggak punya hak menghakimi pilihan hidup orang lain.

Tapi tahu sendiri lah, orang-orang. Mulai ngomong di belakang dan bahkan di depannya. Tentang betapa kasihan nasib teman saya. Tentang masa muda teman saya yang dirampas oleh perempuan beranak satu itu. Tentang seharusnya teman saya bisa dapat perempuan yang lebih baik. Dan saya kalau lagi pada bergosip tentang itu ya hanya ber-"oh", "hmm..", "ya mbok ben". Seingat saya, sampai dengan saya nulis ini, saya belum pernah beropini tentang kehidupan rumah tangga teman saya itu. Ini debut.

Suatu hari yang lain, saya berita lagi tentang sepak terjang rumah tangga teman saya tersebut. Menurut berita yang beredar, teman saya resign dari pekerjaannya, yang mana sebenarnya posisinya sudah sangat bagus di kantor tersebut. Alasannya, menurut si A yang cerita katanya dengar dari si B yang meripakan teman dekatnya si C yang mana adalah teman dekat teman saya tersebut, teman saya resign dengan alasan kantornya yang sekarang terlalu menyita waktu. Kerja dari pagi sampai malam, minggu pun sering masuk. Ngomong-ngomong soal pulang malam, saya malah jadi inget suami saya. Oke, abaikan kalimat terakhir dalam paragraf ini.

Orang-orang mulai bergunjing lagi. Katanya gila ajah sudah punya anak istri malah resign. Katanya teman saya nggak bisa mikir. Katanya teman saya cari mati. Situasi pergosipan semakin memanas. Berita terakhir yang saya dengar dari si A yang diberitahu si B yang dengar dari si C, istrinya yang meminta teman saya resign. Jadi istrinya kemudian yang disebut-sebut gila, nggak bisa mikir, dan cari mati.

Dan mulailah lagi pembicaraan berkisar soal tentang betapa kasihan nasib teman saya dapet perempuan seperti itu. Tentang masa muda teman saya yang dirampas oleh perempuan beranak satu itu. Tentang seharusnya teman saya bisa dapat perempuan yang lebih baik. Tentang betapa teman saya nggak bahagia dalam hidup perkawinannya.

"Ya kan, Rum?" Tanya salah seorang teman saya. "Hmmm.." Jawab saya.

Saya bukannya nggak suka gosip. Saya nggak munafik sih, saya suka bergosip juga. Tapi yang ini terlalu aneh untuk bahan gosip menurut standar saya. Ini bener-bener bukan bahan gosip. Menurut saya yang harus kita lakukan dalam menyikapi kalau ada yang punya hidup seperti teman saya tersebut, ya biarin aja dia menjalani hidupnya sih. Ngomongin ya boleh aja. Tapi kalau sampai pada kesimpulan betapa kasihan dan nggak bahagianya teman saya, saya nggak mau komentar. Ya gimana dong, saya bener-bener nggak tahu dia bahagia atau enggak. Kalau nggak bahagia pun juga dia sendiri kok yang memilih jalan hidupnya yang sekarang. Pasti dia punya alasan.

Sebenarnya, teman saya tersebut nggak terlalu dekat sama saya, tapi dekatnya sama suami saya. Dan fakta-fakta yang ada di gosip tersebut, semacam bahwa teman saya punya anak dan teman saya resign, di konfirmasi kebenarannya oleh suami saya. Tapi kalau tentang kebahagiaannya, suami saya nggak pernah ngomongin sih. Saya juga nggak pernah tanya. Soalnya yang saya peduliin kebahagiannya ya cuma saya dan suami saya. Saya lagi nggak peduli kalau si A si B si C dan teman saya itu nggak bahagia. Lagi cuek gitu sayah. Lagi sok cool.

Sampai suatu hari saya berkesempatan ketemu sama teman saya dan keluarga kecilnya. Ngobrol-ngobrol walau cuma sebentar. Semua kelihatan bahagia. Teman saya bahagia. Istrinya bahagia. Anaknya...mmm...entah deh. Saya nggak bisa mendeteksi seperti apa balita bahagia. Balita kan ya gitu semua, kalau nggak ketawa ya nangis --".

Bukannya temen saya dan istrinya senyum terus kaya orang sarap sih. Tapi pokoknya saya bisa ngerasain aura penuh cinta kalau lagi di deket mereka berdua. Kelihatan teman saya cinta sama istrinya. Dan istrinya cinta sama dia. Dia dan istrinya cinta sama anaknya. Anaknya...rrrr...saya nggak ngerti balita penuh cinta itu kaya gimana. Pokoknya kelihatan.

Jadi yang orang-orang bilang kasian dan nggak bahagia itu apa? Terus kenapa kasihan dapet perempuan ini? Kelihatannya teman saya bahagia tuh sama perempuan ini? Kalaupun bener nggak bahagia, lagi-lagi dia sendiri kan yang memilih jalannya? Semua manusia pengen bahagia. Pastinya temen saya memilih jalan hidup yang bikin dia bahagia. Kalaupun dia nggak terlihat bahagia, saya percaya kalau pilihan hidup yang lainnya bakalan lebih bikin dia nggak bahagia. Ayo deh, pernah punya anak di luar nikah nggak bikin orang jadi nggak bisa bahagia. Nikah sama perempuan yang udah punya anak juga nggak bikin seseorang kemudian harus nggak bahagia.

Saya tanya, apakah akhir-akhir ini teman saya tersebut ketemu si A si B si C si D si E? Katanya enggak. Ngobrol? Juga enggak. Sungguh deh...

Sudahlah...

Tuesday, November 12, 2013

Pengen Pulang

Baru sebulan lebih sedikit saya tinggal di Jakarta. Dan temen-temen terdekat saya sudah mulai muak dengan celotehan saya soal oh betapa saya kangen Jogja, betapa di Jakarta nggak ada yang jualan Ranee dan Rivera, betapa macetnya Jakarta, betapa panasnya Jakarta, betapa sumpeknya, betapa pahit dan judesnya orang-orang di jalanan Jakarta, dan lain-lain.

Saya tahu, memang bukan hal yang bijaksana ketika seorang pendatang seperti saya kemudian membanding-mbandingkan kota asal dengan kota yang saya datangi. Cuma bikin perbedaan yang memang selalu ada itu jadi terasa bertambah buruk. Dan jelas cuma membuat saya terlihat menjadi bertambah buruk. Pendatang penggerutu. Tapi saya bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan, walau demi kebaikan bersama sekalipun.

Dua hari yang lalu saya memimpikan sejenak terbang ke Jogja. Minta waktu untuk kumpul-kumpul lagi dengan orang tua dan teman-teman di Jogja. Sedikit berbelanja barang-barang kebutuhan yang di Jakarta susah banget di temui, atau di Jakarta mahalnya bikin gila.

Tapi ketika keinginan itu terwujud, saya malah kangen kepengen pulang. PULANG? Apakah saya mulai gila dan menyebut Jakarta RUMAH saya? Bukan Jakarta yang saya kangeni. Saya kangen suami saya. Sepanjang di Jakarta saya ngerecokin suami saya kalau saya pengen pulang ke Jogja. Dan sekarang saya di Jogja, rasanya ini bukan pulang.

Baru dua hari saya di sini, tapi saya sudah kepengen pulang. Saya kangen dia yang susah kalau disuruh sikat gigi sebelum tidur,. Saya kangen dia yang kalau jam 8 malem udah tidur. Saya kangen dia yang udah susah-susah saya masakin pagi-pagi malah nggak mau sarapan. Saya kangen dia yang suka gantungin baju-baju kotornya dan nggak mau baju kotornya dicuci. Saya kangen dia yang suka sembarangan nyabut carger HP saya. Saya kangen dia yang kalau pulang kerja jam 7 malem dan kemudian langsung tidur. Saya kangen dia yang suka ngerebut remote TV karena dia suka OVJ dan saya nggak.

Saya kangen.

Mendadak saya nggak pengen ketemu mbak Tami dan mbak Dhika lagi.
Nggak pengen ketemu Ndok, Titit, Adit, Upik, Tata, dan semua yang ada di sini.
Nggak semangat juga ketemu orang tua, mertua, dan nenek saya.
Saya cuma pengen pulang :(

Sunday, November 10, 2013

Sedang Resek

Pernah nggak situ keseeelll banget sama orang yang suka komentar? Pokoknya sembarang dikomentarin. Situ pake baju tertutup dibilang "sok alim". Pakai baju terbuka dibilang "murahan". Pake baju biasa dibilang "tumben". Rasanya pengen lepas baju secepatnya terus lagi ke arah si tukang komen sambil jejelin baju kita ke mulutnya?

Nah, tukang komen itu biasanya kita katain (atau kalau saya boleh bilang: kita komentarin) dengan sebutan: Resek!

Saya sendiri tergolong orang yang resek. Tapi resek saya nggak tertuju pada orang tertentu, tapi pada semua orang. Nggak lawan, nggak kawan, bahkan kucing tetangga juga nggak luput dari keresekan saya. Iya, saya resek emang sih. Yah, mungkin tertuju pada orang tertentu pada waktu tertentu. Kaya beberapa waktu yang lalu saya resek sama orang-orang yang resek sama orang-orang yang niruin Vicky. Tapi biasanya nggak lama trend resek saya segera berganti.

Ngomong-ngomong soal komentar, siapa sih diantara situ yang nggak pernah komentar? Ha!! Berarti situ juga resek! Nggak kok, suka komentar nggak selalu artinya resek. Komentar atau berpendapat jelas banget nggak bisa kita hindari. Wong ada kok yang namanya kebebasan berpendapat. Kalaupun kebebasan berpendapat yang ada ini kemudian nggak bebas lagi karena dibatasi oleh moral etika etc etc, ya tetep aja, siapa sih yang bisa mencegah kita punya komentar? Wong kita punya otak kok.

Mungkin pembatasan-pembatasan itu bikin kita nggak bisa menyuarakan pendapat. Tapi tetep aja kan kita punya pendapat? Kita punya komentar. Nah, kalau kita nggak menyuarakan pendapat kita secara membabibuta (kaya yang suka saya lakukan), ya kita nggak akan dibilang resek (iya, sekali lagi saya resek).

Adakalanya saya merasa sumpek sekali, dan butuh menyuarakan apa yang ada di benak saya. Dikala-kala begitulah saya mendadak menjadi orang paling resek dan menyebalkan yang pantas dijauhi. Kalau saya diam, sebenernya ya nggak apa-apa dan dunia menjadi damai. Tapi karena saya bener-bener resek pada suatu waktu, saya jadinya nggak bisa diam.

Saya kasih tahu satu lagi ciri-ciri ketika resek saya menyerang: Nggak cukup kalau hanya menyuarakan untuk diri sendiri. Jadi memang nggak melegakan ketika saya ngomyang sendiri tanpa ada yang mendengarkan, atau menuliskan komentar saya di diary bergembok yang kuncinya saya buang di kawah merapi. Keresekan saya butuh pendengar.

Makanya kemudian saya punya blog. Sayangnya, dengan semakin famousnya saya dan semakin banyaknya pembaca #prek, semakin banyak aja batasan yang ada dalam menyalurkan keresekan saya.
Jadi ketika resek saya kumat, biasanya saya mengatakannya pada seorang teman saya.

Yang barusan saya resek-i adalah: "aku risih banget deh liat kata "anu" diganti dengan kata "anu". Semacam nggak berkelasgitulhooooo".

Teman saya yang saya ajak resek: "ya mbok ben tooooo"

Saya: "Heh! Saya ini lagi resek! Dengerin aja sih!"

Teman saya: "Okayyyyy..."

Dan kemudian saya lega. Dan saya kembali menjadi istri imut manis baik hati dan ceria seperti sedia kala, untuk sementara waktu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...