Translate

Monday, October 22, 2012

Cemburu itu tanda sayang?

Terkadang saya terheran-heran dengan pertanyaan, "apa mas Pacar nggak cemburu?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya muncul bila saya bercerita tentang teman laki-laki saya, kepada teman perempuan saya. Ehm...saya nggak merujuk pada satu nama khusus. Teman laki-laki saya sih banyak, sebanyak teman perempuan saya. Soalnya saya memang sudah bukan ABG 13 tahun yang nggak mau temenan sama lawan jenis :D.

Contoh skenario:

Saya : "Iya filmnya bagus. Kemarin aku nonton sama A".
Teman : "Hah? Berdua aja sama A? Mas Pacar nggak cemburu?"

atau

Saya : "Kayaknya saya minggu depan ke Bali ah, si B ngajakin niihh.. Mumpung ada temennya".
Teman : "Lhoh, pacar kamu nggak marah tuh, kamu ke Bali sama si A?"

contoh lain

Saya : "Saya besok mau njemput si C di Bandara"
Teman : "Si C mantanmu? Emangnya boleh sama pacarmu?"

Dan sebagainya.

Jujur saja sih, terkadang saya merasa aneh ditanyai seperti itu. Dan jadi bertanya-tanya sendiri:
  1. Apa si penanya kurang pergaulan sehingga nggak pernah jalan berdua dengan laki-laki yang statusnya teman?
  2. Apa pacar si penanya adalah orang yang posesif?
  3. Apa si penanya adalah orang yang posesif?
  4. Apa muka saya kelihatan seperti orang yang suka selingkuh? Deket dikit sama laki-laki langsung kepikiran selingkuh?

Maaf kalau kata-kata saya menyakiti. Mungkin ada diantara teman-teman yang membaca artikel ini yang pernah menanyakan hal semacam ini kepada saya. Tapi jujur, itulah yang terbersit di otak saya :)).

Pada suatu waktu, saya pernah nongkrong kemalaman dengan teman perempuan. Bukan hanya sekali kejadian seperti ini, tapi pernah beberapa kali. Soalnya saya kalau nongkrong memang suka lupa waktu. Dan beberapa kali juga saya dimarahi oleh pacar saya, ditelpon dan disuruh pulang. Iya, pacar saya memang nggak suka saya keluar malam sendirian, karena jalanan malam Jogja bahaya. Tapii...pacar saya malah nggak papa saya keluar malam sama laki-laki. Kenapa? Karena kalau keluarnya sama temen laki-laki, pasti saya diantar sampai ke rumah. Aman.

Pacar saya sih sepenuhnya menyadari, kalau situasinya kami berjauhan, sehingga nggak mungkin dong dia jagain saya 24 jam. Jadi kalau saya butuh pertolongan orang lain, ya nggak apa-apa. Malah mas Pacar berterimakasih pada teman saya yang sudah menolong saya atau menemani saya.

Masalah bergaul dengan laki-laki, saya rasa saya sih sudah cukup mengerti bagaimana cara bergaul dengan "teman" dan bagaimana cara bergaul dengan "pacar". Jadi nggak perlu lah pacar saya merasa perlu membatasi dan mengatur hal-hal sepele seperti itu.

"Cemburu kan tanda sayang?"

Eh...menurut saya kok enggak ya? Ini sih cuma pendapat pribadi ya, nggak perlu kok disetujui. Tapi inilah yang saya percaya. Cemburu itu bukan tanda sayang, tapi pertanda takut kehilangan. Atau kalau boleh saya malah mau membahasakan pertanda egois. Saya pikir kalau kita sayang dan kemudian memutuskan berkomitmen dengan seseorang, tentunya harus ada perasaan saling percaya. Kalau nggak ada dasar saling percaya, lalu untuk apa berkomitmen?

Ada salah seorang teman dekat saya, yang oleh pacarnya, dia nggak diperbolehkan berhubungan lagi dengan mantannya. Menilik kasusnya sih, nggak ada yang spesial dengan mantannya. Putus baik-baik. Si mantan juga sudah move on. Dan yang muncul dalam pikiran saya: Pacar baru teman saya ini berarti mengamini kalau pacarnya masih ada apa-apa sama mantannya. Lha iya kan? Kalau nggak ada apa-apa lagi kan mestinya bisa bertingkah laku sewajarnya?

Kalau saya jadi mantan pacar yang dijauhi, saya malah bakalan bangga dong. "Woh, ternyata saya masih punya "pengaruh". Buktinya sampai pacar barunya nglarang ketemu saya".

Jadi dalam pikiran saya:
Ketika seseorang marah ketika pacarnya pulang malam, karena khawatir, itu tanda sayang.
Tapi ketika seseorang marah ketika pacarnya dekat dengan teman laki-laki, itu bukan tanda sayang.

Cemburu *dalam kasus ini* berarti malah mengamini kalau pacarnya adalah tipe orang yang nggak bisa menjaga sikap dan nggak bisa bergaul.

Saya nggak munafik. Saya juga pernah cemburu kok. Tapi saya pun sadar diri kalau perasaan cemburu saya nggak ada kaitannya dengan perasaan sayang saya. Jadi saya harus meredam. Dan saya juga segera menyadari kalau pacar saya adalah pribadi yang dewasa, yang tentu mengerti hal yang baik dan yang buruk. Kalau saya memang siap berkomitmen, saya harus siap untuk percaya.

Nah, ketika saya menjelaskan soal itu kepada teman-teman wanita, banyak yang nggak ngerti. Katanya, kalau laki-laki normal malah nggak papa kalau pacarnya keluar sama perempuan, tapi keberatan kalau pacarnya keluar sama laki-laki. Wah, pacar saya nggak normal donk? :))). Ya nggak papa deh. Kalau begitu saya syukuri saja punya pacar nggak normal :D.

Saturday, October 20, 2012

Mungkin Inilah Momen Patah Hati Paling Tidak Ekspresif yang Saya Alami Dalam Hidup Saya

Ternyata saya juga punya kisah cinta yang miris.

Mmmm...kisah cinta bagi saya mungkin, tapi bukan bagi dia. Mendadak saja saya teringat. Dan kepingin bercerita.

Kejadiannya sudah lama sekali. Jaman dulu waktu saya masih belasan tahun. Saya juga sudah lupa, karena terkubur kisah-kisah ~baik cinta maupun tidak cinta~ yang lain. Tapi nggak tau kenapa mendadak saya teringat ditengah-tengah kesibukan saya membuat laporan keuangan. Mungkin mukanya mirip jurnal pembantu piutang.

Saya kurang suka memberi inisial huruf kepada seseorang. Tapi untuk menuliskan namanya pun rasanya saya malu. Jadi marilah kita sebut dia hanya dengan kata ganti orang ketiga.

Dia mungkin cinta pertama saya. Usia saya dengan dia terpaut lumayan riskan. Ada kali ya lima tahun? Jadi ketika saya masih kecil, dia terasa sudah sangat dewasa. Tapi semakin saya bertumbuh besar, jarak lima tahun terasa semakin menyempit.

~ Begini, cowok berusia 20 tahun pasti gengsi dong, kalau ngecengin ABG 15 tahun? Tapi cowok 27 tahun nggak akan merasa bermasalah ketika mengencani cewek berusia 22 tahun, kan?. ~

Waktu kecil, saya diam-diam naksir dia. Nggak serius. Ya taulaahh..cinta-cintaan anak kecil. Bukan cinta monyet juga sih. Lebih ke semacam cita-cita: "kalau besok udah gede aku mau punya pacar kayak dia". Dia nggak ganteng sebenarnya, tapi jenaka. Sewaktu saya kecil, rasanya dia ganteng sekali. Tapi ya saat itu dia nggak mungkin menoleh ke arah bayi seperti saya.

Sampai akhirnya saya remaja, saya mulai bisa masuk dalam satu lingkup pergaulan yang sama dengannya. Terus saya deketin gitu? Enggak :p. Saya malu. Alih-alih mendekatinya, saya malah dekat dengan orang lain yang saat itu saya pandang paling mirip dengannya, yang kebetulan juga sedang mendekati saya *ruwet deh pemilihan kata saya*. Yang lebih terjangkau. Dan akhirnya saya pacaranlah dengan dupe-nya dia. Dia KW rrrr...dua?

Tapi ini bukan kisah tentang pengalihan cinta kok. Waktu pacaran, saya bener-bener suka dengan pacar saya. Saya menikmati saat-saat bersama pacar saya. Tapi saya masih menyimpan kekaguman untuknya. Dalam hati saja tentunya.

Dan ditengah masa-masa saya pacaran dengan cinta monyet saya yang mirip dia, dia nembak saya. Caile...bahasanya nembak :D. Iya deh, nembak aja. Toh saat itu saya masih ABG. Jadi penggunaan bahasa-bahasa ABG nggak ditabukan :D.

Saya?

Kelimpungan bukan buatan. Tapi saya memang orang paling nggak ekspresif sedunia. Saya cuma ber-ohh.. dan ahh.. Ya lagian mau bagaimana lagi? Toh saya punya pacar, dan masa pacaran saya sedang unyu-unyunya.

Tapi kejadian itu cukup membuat saya GeeR dan nggak bisa tidur semalaman.

Keesokan harinya, saya berniat untuk bercerita tentang hal ini kepada teman dekat saya. Biasa ini, ABG. Curhat gitu istilahnya. Tapi saya dikejutkan oleh sesuatu. Sebelum saya bercerita apapun, teman saya tersebut nyerocos panjang lebar:

Bahwa kemarin dia ke rumah teman saya itu ~ yang berarti sesaat setelah dia pulang dari rumah saya ~. Dia menceritakan semuanya kepada teman saya itu, bahwa dia nembak saya. Bahwa dia menyesali kebodohannya sudah nembak saya yang sudah punya pacar ini, apalagi melihat reaksi saya yang cuma cengar-cengir nggak jelas. Dan diakhiri dengan....dia nembak teman saya. Ehem...teman saya nggak menerima tentu saja.

Jadi dia menyesal? Ohh...

Jadi hari itu adalah hari nembak cewek sedunia? Semua cewek yang ditemui wajib ditembak? Ohh...

Tetootttt!! Alarm pertama yang mengingatkan saya untuk nggak GeeR berlebihan.

Teman saya lebih pintar dari saya. Nggak ada cerita teman saya galau semalaman, karena teman saya tahu kalau dia sedang menghadapi laki-laki yang entah sedang bingun atau buaya namanya. Jadi cuma saya yang galau nggak penting. Aduhh... Untung saya belum cerita kepada siapa-siapa XD.

~ Kalau mas Pacar menyebut laki-laki seperti itu: Bobi. Boyo Bingung :))) ~

Saya mencoba melupakan. Tapi jujur saya masih galau. Walau tahu saya sasaran buaya, tapi tetap saja kejadian itu membekas. Ya maklum lah ya, udah naksir sejak balita.

Kehidupan saya yang membosankan bersama pacar-pacar yang datang silih berganti yang juga membosankan terus berjalan.  Saya kuliah, pindah ke Jogja. Beda kota dari dia. Sibuk. Mengejar IP. Kerja Part time. Sok-sokan berorganisasi kemahasiswaan. Teman baru. Hobi baru. Aktivitas baru. Pacar baru. Nongkrong-nongrong. Lupa.. Atau tepatnya mencoba lupa.

Sampai suatu ketika, saya lupa tepatnya oleh kejadian apa, dia muncul lagi. Dan saat itu saya nggak punya pacar. Saya berbunga-bunga lagi. Teringat perasaan yang dulu-dulu. Lalu kami dekat. Saya menikmati momen melayang-ke-langit-ketujuh waktu itu. Kedekatan kami kali itu berbeda, terasa lebih istimewa.

Tapi kemudian pada suatu waktu dia menghilang tanpa kabar.

Lewat beberapa hari, saya memberanikan diri menyapa, "hei..kenapa kamu nggak berkabar?"

Nggak disangka dia membalas: "Nanti aku jelaskan semuanya".

Sejak itu saya melewati hari dengan galau lagi. Penjelasan yang saya tunggu nggak pernah datang.

Sampai pada beberapa hari kemudian, saat saya duduk di bangku Gereja pada hari minggu biasa, tibalah pada pengumuman pernikahan Gereja. Namanya disebut. Ternyata oh ternyata...

Saya teringat alarm pertama saya waktu masih ABG. Dan inilah alarm kedua saya untuk nggak terlalu serius menanggapi seseorang, bila semuanya belum jelas. Bila perasaan belum terungkapkan.

Ya sudah lah...

Saya patah hati, tapi bersikap biasa saja. Alarm kedua sudah berbunyi, waktunya saya menyembunyikan perasaan. Jangan berlebihan mengumbar segala hal yang belum pasti.

Saat hari pernikahannya pun saya datang. Mencium pipinya mengucapkan selamat dan ikut berbahagia seperti teman-teman yang lainnya. Mungkin inilah momen patah hati paling tidak ekspresif yang saya alami dalam hidup saya.

Memandanginya di pelaminan, dan berkata pada diri sendiri: "sudahlah, inilah akhir cinta balita saya. Waktunya saya mencari sosok yang lain".

Dan begitulah semua berlalu.

Saya dengan pacar-pacar saya yang silih berganti. Dia dengan keluarga kecilnya, istri dan anak-anak yang bermunculan. Terkadang kami masih saling bertukar salam melalui media sosial, walau sangat jarang. Saya masih mengagumi, tapi sudah nggak akan terjerat.

Nggak ada tangis-tangisan. Nggak ada patah hati berlebihan. Yang ada cuma senyum datar. Perasaan saya kepadanya mungkin nggak tersampaikan dan nggak diketahui siapapun. Tapi saya nggak pernah menyesal, karena kalau tersampaikan mungkin malah akan memalukan XD.

Sekarang rasanya saya ingin kembali bertukar kabar. Dan mengucapkan kepadanya: "hei...aku akan menikah tahun depan. Datang, ya. Beri selamat dan cium pipiku seperti yang kulakukan waktu hari pernikahanmu dulu".

Thursday, October 18, 2012

Bolehkah saya sejenak beristirahat?

Terkadang memulai haripun rasanya begitu berat. Sinar matahari pagi yang jatuh hangat di muka saya melalui jendela kamar rasanya seperti lampu sorot yang membutakan. Aktifitas pagi jalanan kecil di depan rumah terasa memekakkan.

Rutinitas ini dan itu yang biasa saya jalani seperti bernapas, hari ini serasa seribu kali lebih berat. Berkas-berkas, laporan keuangan, klien yang datang silih berganti membuat kepala saya berkunang-kunang.

Ucapan yang biasa sajapun terasa bagai sengaja menyulut emos.

Kepala saya terbakar di tengah hujan yang mendera Jogja...

Bahkan berbicara tak tentu arah dengannya, yang biasanya mampu merekahkan senyum saya, kali ini serasa tak bermakna. Hanya senyum basa dan goda-menggoda yang basi.

Dunia, saya ingin sejenak beristirahat...

Friday, October 12, 2012

Rahasia Terbesar yang Sampai Saat Ini pun Belum Saya Ungkapkan Kepada Orang Tua Saya: Bahwa Sejak Kecil, Saya Sudah Menemukan Lorong Rahasia ke Jalan Terlarang

Kebetulan hari ini saya berada di Solo, kota kelahiran saya, kota tempat saya melewatkan masa kecil sampai remaja, dengan segala romantika dan problema :D.

Dan kebetulan juga saya mempunyai sedikit waktu untuk "napak tilas".

Rumah saya bukan di Solo tepatnya, tapi di sebuah desa kecil di pinggiran kota Solo. Boleh deh disebut kampung. Saya suka disebut kampungan alias orang kampung. Kampung itu polos, lugu, jauh dari polusi udara dan suara, semua penduduknya saling mengenal, saling menolong, saling bergosip. Kampung itu menyenangkan. Saya memang lebih cocok jadi orang kampungan daripada orang metropolitan.

Waktu kecil, saya suka sekali keliling desa naik sepeda BMX kecil andalan saya. Lalu memarkir sepeda di salah satu kebun tetangga, dan memanjat pohon talok atau pohon jamblangan yang buahnya menggrembuyung, makan talok dan jamblangan yang dipetik langsung dari pohon, sambil nangkring menikmati sepoi angin di salah satu dahannya.

Pohon talok di depan masjid deket rumah saya juga merupakan tempat persembunyian saya, kalau saya malas tidur siang. Dari atas pohon talok pada jam dua siang, akan terdengar suara ibu saya berteriak-teriak memanggil menuruh saya pulang dan tidur siang. Semakin keras suara ibu saya, semakin rapat saya bersembunyi diantara dedaunan.

Di belakang pohon Jamblangan yang berjajar, ada lautan ladang tebu. Kalau saya kesana, terkadang bapak yang sedang mengawasi ladang tebu *mungkin pemilik, mungkin pekerja, entah saya abai* akan menebaskan saya sebatang tebu. Mengupaskan, dan memotongkan kecil-kecil untuk saya dan teman-teman saya. Saya akan keasikan menghisap-hisap batang tebu sampai habis sari manisnya, ditengah ladang yang dipenuhi capung warna-warni *kalau sedang musim capung*.

Jalan raya merupakan tempat terlarang bagi saya waktu itu. Bapak ibu saya akan menjewer sampai telinga saya merah dan panas kalau saya ketahuan nekat bersepeda ke sana. "Bahaya. Itu tempat buat orang yang udah gede. Kalau anak kecil bisa ketabrak," kata bapak saya.

Sampai suatu ketika, saya bermain di sebuah kebun milik tetangga saya sendirian. Saya iseng menyusuri pagar pembatas bagian belakang kebun, yang berupa tanaman merambat setinggi rumah. Dan hei, ada lubang di sana. Saya merangkak melalui lubangnya, kemudian berjalan mengikuti gang yang berkelok-kelok, dan....sampailah saya di jalan Raya.

Howaaa...

Saya merasa keren sekali waktu itu. Saya menemukan jalan rahasia menuju ke jalan terlarang! Tapi saya takut. Saya hanya berani berdiri sampai di ujung gang yang mengarah ke trotoar pinggir jalan raya. Kata bapak saya, saya bisa ketabrak kalau ke jalan raya.

Saya juga teringat ketika saya berantem dengan teman *saya hobi berantem dulu. Sampai guling-guling menjambak dan memukul teman laki-laki*, atau terjatuh dari sepeda, atau  ketika saya dimarahi tetangga karena mengejar-ngejar anak ayam milik mereka lalu menangis. Bapak saya akan datang, dan menggendong saya pulang. Saya akan terus menangis keras dalam gendongan diperjalanan pulang. Dan sampai rumah saya malah dimarahi. Tapi tetap saja, kalau sudah menangis di luar, saya nggak mau pulang kalau bapak saya nggak menjemput dan menggendong :')

Dan kali ini, sekitar 20 tahun kemudian, saya kembali mengitari kampung saya, dengan sepeda yang lebih besar tentunya.

Pohon talok masih ada, tapi nggak ada anak-anak kecil di dahan-dahannya. Kemana mereka? Mungkin sedang main playstation atau facebookan di rumah. Atau mungkin sedang ke mall membeli es krim Baskin Robin. Pak es tung tung yang lewat pun berlalu begitu saja, tanpa ada yang memanggil. Padahal pak es tung tung jaman saya kecil dulu menjadi primadona bagi anak kecil di kampung saya, bersama pak patah bakso ojek.

Pohon Jamblangan, lautan tebu, dan kebun capung sudah nggak ada, digantikan dengan jajaran rumah-rumah mungil berpola seragam. Hmmm....

Kebun tetangga-tetangga saya juga sudah banyak yang hilang. Digantikan bangunan rapat-rapat. Tapi hei...kebun rahasia yang memiliki pintu ke jalan terlarang masih ada, walau sedikit berubah. Penasaran saya sandarkan sepeda. Karena sekarang saya sudah besar T.T, maka saya mengetuk rumah di samping kebun untuk meminta ijin dulu. Tapi malah tetangga depan rumah yang melongok, dan bilang kalau bu Ratna sudah pindah, sekarang rumahnya kosong.

Saya memasuki kebun yang terbengkalai. Terus ke belakang dan menemukan pagar pembatas yang dulu rasanya setunggu rumah. Ternyata hanya dua meter :D. Lalu saya mencari lubang yang dulu, masih ada. Tapi tentunya saya nggak bisa merangkak melalui lubang tersebut. Bukan karena nggak muat, tapi karena saya sudah besar T.T.

Lalu saya mengarahkan sepeda saya ke jalan raya yang sudah nggak terlarang bagi saya, dan mencari gang yang mengarah ke kebun tersebut. Saya memasukinya dengan menuntun sepeda saya, menyusuri gang sempit yang *ternyata* pendek. Dan sampai pada pagar tanaman yang tanahnya berlubang.

Cuma berdiri dan melihat.

Mungkin kalau sekarang saya merangkak disitu, akan sangat konyol. Tapi rasanya dulu hal itu adalah penemuan paling keren di dunia. Rahasia terbesar yang sampai saat ini pun belum saya ungkapkan ke orang tua saya. Bahwa sejak kecil, saya sudah menemukan lorong rahasia ke Jalan Terlarang...

Sekian petualangan saya hari ini.

Tuesday, October 2, 2012

Masih di Dalam Permainan Nasib

Kadang kala ketika terbangun di tengah malam menjelang dini pagi seperti ini, saya tidak bisa menghentikan pikiran saya untuk berkelana. Membayangkan seandainya saya tidak memilih berada di jalan ini.

Seperti yang kita semua tahu, setiap detik di kehidupan kita, kita dihadapkan pada bermilyar kemungkinan yang bisa kita pilih. Apakah saya mau menunduk. Apakah saya mau mengedip. Menoleh. Mengetik. Melambai. Berlari. Menyapa. Mencinta. Mengalah. Marah. Memilih. Dan masih banyak pilihan. Tersedia dalam hidup kita setiap detiknya.

Seandainya saya tidak berkedip tiga detik yang lalu, akankah nasib saya berubah?

Seandainya saya memilih untuk tidak tidur dan menciptakan sebuah karya, apakah kemudian saya akan terkenal?

Seandainya pada suatu saat di masa lalu saya memilih untuk memaafkan, apakah saya akan bahagia?

Thursday, September 13, 2012

Halo Orang-Orang, Bencana Bukan Merupakan Hukuman dari Tuhan!

Saya sudah sering menuliskan mengenai hal ini. Tapi topik ini terus menerus muncul dan terus menerus membuat saya terganggu. Semalam, saya melakukan obrolan ringan dengan pacar saya, sehingga saya tergelitik untuk membuka kembali memori saya mengenai topik ini, dan kemudian menuliskannya.


Kasus pertama:

Waktu awal kuliah, pertama kali saya menginjakkan Jogja, saya mengalami musibah yang cukup membuat trauma. Begitu turun dari bus (saya turun di Janti, saat itu jam setengah 7 malam, kondisi jalan ramai karena ada kampanye suporter sepak bola lokal, tetapi pinggir jalan sepi), seseorang menyergap saya, menodongkan pisau lipat, dan meminta handphone beserta seluruh uang yang saya bawa. Tanpa berpikir, saya langsung menyerahkan Nokia 3310 dan uang saku sejumlah Rp 200 000, yang waktu itu adalah harta saya yang paling berharga.

Apakah kejadian itu membuat saya trauma? Ternyata enggak. Saya biasa saja, tetap beraktivitas dan tetap ke janti kalau memang diperlukan. Tapi kejadian sesudahnya yang membuat saya trauma.

Seperti sewajarnya anak baru, saya menceritakan pengalaman "mengesankan" itu ke orang-orang. Dan ada beberapa orang yang berkomentar: "Kamu kurang amal sih". Dan bahkan pada umur saya yang 17 tahun saat itu, saya sudah kepingin menggosok mulut orang yang berkomentar seperti itu dengan parutan kelapa #hardcore.


Kasus kedua:

Belum lama ini saya mengalami kesialan juga. Motor saya dipepet orang di pinggir selokan mataram, motor saya oleng, dan saya terjatuh. Beruntung saya hanya terjatuh di jalanan. Tetapi tas saya beserta isinya terlempar masuk ke selokan Mataram. Kejadian selengkapnya pernah saya tulis disini.

Selain simpati, rasa kasihan, dan pertolongan, saya juga menerima kembali komentar yang mengiritasi perasaan saya: "Kamu pasti kurang amal, ya?"



Sebenarnya, sejak kasus pertama, saya sudah membatasi diri untuk nggak menceritakan kemalangan-kemalangan saya ke orang lain yang nggak berkepentingan. Karena saya benar-benar merasa terganggu dengan komentar semacam itu. Dan ini bukan hanya mengenai saya. Beberapa kali saya memergoki, seseorang yang mengalami musibah dan kemudian berbagi di social media, menuai komentar: "banyak-banyak berdoa ya". "Makanya lain kali banyak amal, biar terhindar dari musibah". #blah.

Pernahkan orang-orang yang berkomentar seperti itu berpikir sebelum berbicara?

"Makanya banyak doa dan amal!"
Dengan ucapan itu mereka menghakimi bahwa orang yang terkena musibah adalah karena orang tersebut kurang doa dan amal. Dan saya sedikit emosi dengan komentar tersebut. Hai, orang-orang, apakah kamu bener-bener tau keseharian saya? Saya doa berapa kali sehari? Saya amal berapa persen dari gaji sebulan? Dan benarkah Tuhan membuat semacam aturan, harus berdoa minimal tiga kali sehari dan amal minimal 5% sebulan agar kamu terhindar dari bencana?
Saya rasa, masalah doa dan amal saya bukan urusan siapapun. Saya nggak merasa ada perlunya melaporkan kemana-mana pada saat saya melakukan doa dan amal. Jadi, saya juga nggak merasa ada perlunya orang lain mengomentari mengenai kebaikan hati dan religiusitas saya.

"Kamu pasti kurang amal, ya?"
Dan kamu yang berkomentar, merasa lebih banyak amal dari saya, ya? Dalam komentar semacam itu, terselip kesombongan. Lihat nih, saya nggak sial kayak kamu, berarti saya amalnya lebih banyak dari kamu. Iya deh, terserah kalau memang situ banyak amal. Kamu orang suci. Tapi tolong jangan menghakimi kalau orang lain kurang amal. Karena bisa saja orang yang kamu komentari bahkan amalnya beribu kali lipat dari kamu.


Baiklah, tulisan saya mulai penuh emosi :D. Kalem.. Kalem...


Kasus-kasus diatas sama seperti tanggapan beberapa orang mengenai bencana alam, yang pernah juga saya ulas disini. Orang-orang cenderung spontan berpendapat kalau bencana alam adalah hukuman dari Tuhan.

Masih ingat mengenai Tsunami Aceh? Orang-orang beramai-ramai mengungkapkan pendapat, "itu hukuman Tuhan karena anu *saya malas menulis karena pembahasan saya bukan soal itu*"

Lalu gempa Jogja. Banyak yang berpendapat kalau muda-mudi Jogja terlalu banyak melakukan sex bebas sehingga Tuhan murka.

Gempa Bali. Karena Bali kota maksiat sehingga pantas dihukum.

Letusan Gunung Berapi: hukuman Tuhan karena manusia sudah begitu banyak dosanya.


Rasanya saya ingin menutup telinga saya dan berteriap: STOP. TUTUP MULUT. KALAU NGGAK MAU BANTU YA NGGAK USAH BANTU TAPI TOLONG JANGAN MENGHAKIMI TANPA BERKACA!

Saya akan mengulang kembali apa yang sering saya tuliskan:
Kalau memang bencana alam adalah hukuman dari Tuhan, kenapa masyarakat di lereng merapi yang terkena bencana? Kenapa bukan bapak-bapak pejabat di gedung DPR yang otaknya penuh korupsi dan rekayasa? Kalau memang gempa jogja adalah hukuman atas kaum yang melakukan sex bebas, kenapa malah masyarakat pinggiran di Bantul dan Klaten yang banyak menjadi korban?

Menurut saya, bahkan sebelum manusia ada, alam sudah beraktifitas. Jadi segala bencana alam nggak ada hubungannya dengan dosa atau kurang amal atau apalah gitu.

Menurut saya, nggak sepantasnya kita menghakimi seperti itu. Yang bisa kita lakukan hanyalah melatih kepekaan dan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan. Karena sebagai manusia, kita nggak pernah tahu kapan alam bergejolak...

Friday, September 7, 2012

Solusi atas masalah Kuota

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami masalah sehingga nggak bisa ngepost blog. Masalahnya adalah kuota penyimpanan gambar di account blogspot saya sudah habis, jadi saya enggak bisa upload pic untuk memperlengkap artikel yang saya buat. Blog saya yang Racun Warna-Warni *adiknya blog saya yang ini* adalah sebuah blog komersil yang ditujukan untuk mereview produk-produk kecantikan. Nah, tau sendiri kan, mengepost artikel kecantikan tanpa menggunakan gambar itu bagaikan....

~ tadinya saya mau menulis "bagaikan sayur tanpa garam" atau "bagaikan apa tanpa apa". Tapi kok terlalu pasaran ya sehingga tampak konyol & nggak lucu lagi. Yah, saya memang penuh pencitraan orangnya. Kalau nggak keren saya nggak mau melakukan *benerin falshies* ~

Kenapa bisa sampai penuh? Saya akan jelaskan menurut pengetahuan sotoy saya aja ya. Setiap kita mengupload gambar di account blogspot, secara otomatis, gambar yang kita upload tersebut akan tersimpan di Picasa. Nggak peduli tuh gambar jadi apa enggak di tampilin di blog, atau gambar itu pada akhirnya dihapus dari blog, tetep aja gambar yang sudah kita upload, akan tersimpan di Picasa.

Padahal, Picasa yang disediakan free untuk kita, cuma 1 GB atau tepatnya 1024 MB. Itu buanyak banget sih sebenarnya. Cuma karena blog saya yang sebelah itu keren banget dan gambarnya banyak banget, ya jadinya habis juga kuotanya.

Lagian saya agak-agak dodol nih, harusnya gambar yang mau saya upload saya re-size dulu. Toh size normal yang bakalan kelihatan di web itu nggak nyampai 100 KB. Gambar 50 KB pun sudah cukup untuk ukuran medium yang terlihat di web/blog kita. Nah, kalau saya, saya langsung aja upload tanpa re-size. Jadi gambar segede-gede 2 MB - 3 MB saya upload dengan polosnya. Ya jelas aja kuota saya cepet habis!

Nah, bila ada yang mengalami masalah seperti saya, solusi paling gampang adalah melakukan upgrade storage. Jadi kita membayar sejumlah uang agar bisa mendapatkan kuota tambahan untuk upload gambar kita. Tapi saya lagi kere...

Bisa juga dengan upload gambar via Photobucket atau website-website lain yang disediakan untuk menampung foto. Lalu copy image link yang sudah kita upload di photobucket, dan upload gambar ke blogspot dengan pilih file from URL.

Tapi saya nggak sukak. Saya maunya tetep bisa upload file via blogspot langsung aja. Jadi solusi satu-satunya adalah menghapus gambar yang tersimpan dalam account picasa saya. Tapi harus hati-hati, karena gambar yang dihapus dalam account picasa, akan terhapus juga dari artikel blog kita. Jadi, yang saya hapus adalah:
  1. Gambar yang terlanjur saya upload namun nggak jadi saya posting
  2. Gambar yang kedobelan
  3. Gambar yang sudah saya hapus dari artikel blog saya
  4. Gambar yang sudah saya ganti
    Saya memang mengganti beberapa gambar di artikel saya. Terutama gambar-gambar yang size-nya besar banget (terutama gambar yang kebetulan saya ambil dari kamera SLR). Gambar ke size kelas berat tersebut saya ganti dengan gambar yang sudah versi resize. Lalu gambar lama yang bersize besar, saya delete dari Picasa saya. 

Nah, sekarang adalah cara mendelete gambar enggak kepake, yang sudah terlanjur tersimpan di Picasa. Caranya:
  1. Login ke account Gmail 
  2. Masuk ke Album Web picasa
  3. Klik atau buka gambar yang ingin kita hapus
  4. Klik atau pilih icon Action yang terletak di atas gambar
  5. Klik Delete this Photo

Selesai. Setiap foto yang terdelete, tentunya akan menambah kuota picasa kita. Kuota picasa bisa kita lihat di bagian paling bawah pada halaman Picasa Web Album kita. Bunyinya begini nih:

You are currently using xxx MB (xx.xx%) of your 1024 MB.


Tapi sekali lagi, hati-hati saat menghapus gambar yang tersimpan dalam picasa. Jangan sampai ada artikel kita yang gambarnya ikutan menghilang karena kita hapus.

Tentunya kalau kita bertahan lama ngeblog, suatu saat kuota kita akan habis lagi. Ini hanya langkah untuk menunda habisnya tersebut. Atau dengan kata lain, langkah pencegahan :D. Yah saya sih berharapnya, saat kuota saya benar-benar habis dan nggak ada lagi gambar yang bisa saya delete, saya sudah jadi milyader sehingga blogspot sudah saya beli ^^.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...