Translate

Friday, August 5, 2016

Kata Suami Saya

Suami saya bilang dia nggak rela kalau saya berhenti nulis. Katanya dia nggak nyuruh saya untuk nulis dengan satu tema khusus. Tapi pokoknya saya harus terus nulis. Kalau saya nggak suka lagi dengan satu tema yang sudah bertahun-tahun saya tulis, saya boleh berhenti nulis soal itu, tapi jangan pernah berhenti nulis.

Karena menulis bikin saya bahagia. Dan karena tulisan saya lebih gampang dipahami daripada omongan saya. Katanya :))).

Friday, April 1, 2016

Pamitan

Hai temen-temen,

Ini saatnya saya mau mengungkapkan sesuatu yang serius. Tadinya saya pengen nulis ini di blog sebelah, karena yang baca lebih banyak. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayaknya lebih tepat dituliskan di sini. Karena blog yang ini lebih personal aja gitu. Lebih enak kalau mau menggalau atau menyinyir. Euh..

Oke, jadi saya memutuskan untuk berhenti nulis di blog. Mmm...belum tau sih apakah mau sementara atau selamanya. Tapi yang pasti, andaikata sementara, sepertinya akan sangat laaaamaaa. Saya akan berhenti nulis di blog saya yang manapun.

Keputusan ini sudah saya pikirkan masak-masak dan bukan cuma semalam sih, tapi udah berbulan-bulan. Dan tentunya ini bukan keputusan yang mudah ya. Tapi sepertinya ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan mengingat kondisi dan situasi saya saat ini.

Mungkin nggak banyak yang nyadar, tapi saya ini orangnya introvert. Saya kurang demen gaul sama orang-orang. Ketika saya bersikap ramah sepanjang waktu, itu membutuhkan effort yang luar biasa besar. Aslinya saya orangnya diem dan judes. Dan karena blog saya semakin banyak yang baca, saya jadi merasa ada semacam tuntutan untuk bersikap ceria, bijaksana, ramah dan penuh semangat terus. Padahal saya capek bersikap begitu.


Sunday, February 28, 2016

Diskusi dan gesekan

Salah satu teman grup WA yang saya ikuti, pernah share capture salah satu status teman FB-nya, yang kita sebut saja Ani. Ani ini bukan nama sebenarnya. Lalu kenapa saya pakai nama Ani? Karena saya barusan nonton ulang siaran Mata Najwa pas bintang tamunya Bang Haji. Mwahahahahaa....

(Dan saya suka nama Ani. Mungkin untuk seterusnya, Ani akan menjadi semacam tokoh permanen di blog saya yang ini. Jadi kalian, silahkan membiasakan diri dengan Ani.)

Bukan statusnya yang jadi perhatian di kala itu, tapi komen dari seseorang dan cara Ani menanggapi suatu komen. Jadi si Ani ini adalah seorang beauty blogger. Dia berbagi link blogpost terbarunya via Facebook.

Ngomong-ngomong saya juga beauty blogger loh. Nih klik aja www.racunwarnawarni.com.

Status tersebut kemudian dikomen oleh salah seorang followernya. Saya juga lupa kalimat pastinya bagaimana. Tapi yang jelas, si follower menanyakan kepada Ani, satu detil mengenai barang yang di review tersebut, dan juga menanyakan kenapa Ani tidak mencantumkan saja informasi tersebut pada blogpost yang dibuatnya?

Alih-alih menjawab perihal info barang yang ditanyakan, si Ani malah memilih untuk menjawab pertanyaan kedua secara panjang lebar. Dia menjelaskan bahwa merupakan pilihannya untuk memilih tidak mencantumkan informasi anu, karena...pokoknya panjang lah ya. Dan saya males menjelaskan di sini karena kamu pasti nggak mudeng. 

Ya intinya sih si Ani menjelaskan alasannya, dan kemudian meminta kepada si penanya untuk googling sendiri sahaja mengenai informasi yang dia tanyakan tersebut. 

Thursday, February 11, 2016

Kapokmu kapan!

Pas pertama kali saya ngeliat ini di timeline instagram saya, yang pertama terlintas di pikiran saya adalah: "HAHAHAH MODYAR KOWE HATER! KAPOKMU KAPAN!!!"

Terus dengan riang gembira saya share berita ini kemana-mana. Biar semua orang tau. Terutama orang-orang yang suka nge-troll di media sosial, ataupun yang baru niat mau bikin akun palsu buat maki-maki di media sosial.

Saya dari dulu termasuk yang belum paham sama trend hater ini. Maksude iya lah saya tahu rasanya benci sama seseorang. Saya juga nggak suka sama banyak manusia kok. Saya lebih seneng gaul sama kucing soalnya. Saya juga tau rasanya nggak suka sama artis tertentu. Tapi ya nggak terus saya maki-maki dia keleessss! Anjing aja kalau nggak ngerasa digangguin nggak bakal nggonggongin orang, ya kan?

Ada juga yang bilang, hater-hater yang mulutnya tajam suka maki-maki orang si sosial media itu biasanya pelampiasan karena kehidupan nyatanya yang berantakan. Karena nggak bahagia. Karena kalainan anu anu. Ya saya juga tuh nggak selalu hepi. Tapi saat nggak hepi saya juga nggak kemudian maki-maki orang lain yang nggak ada hubungannya dengan ketidak hepian saya. Nggak ada alasan yang bikin maki-maki orang itu bener loh. Kecuali kamu malaikat. Atau kamu mau didatengin malaikan?

Wednesday, February 3, 2016

Intel dan Superhero

sumber: www.funnyjunk.com
Intel itu ya, konon katanya: Berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki.

Dan bukan, saya bukan lagi ngomongin Indomie Telur di burjo Babarsari yang enaknya bikin orgasm itu.

Disini, saya melihat ada kesamaan antara intel dengan Superhero. Mereka sama-sama harus menyembunyikan identitasnya. Kenapa? Ya biar nggak membahayakan orang-orang terdekatnya dong. Bayangkan kalau semua orang tahu bahwa suami saya itu adalah Zoro. Nanti musuh-musuh suami saya bakalan menculik saya untuk menekan suami saya. Mereka akan mengancam: "isterimu yang cantik jelita sudah di tangan kami. Tolong jangan kaw gagalkan rencana jahanan kami kalau kaw mau istrerimu ini kembali dalam keadaan utuh tanpa ada jari yang pothol!"

Pensiunlah suami saya jadi Zoro. Mending jadi montir aja di Astra Honda Motor.

Selain masalah keamanan isterinya yang cantik jelita, dengan mengungkapkan identitasnya, suami saya juga akan menghadapi hambatan berupa fans. Wanita mana yang nggak termehek-mehek dengan superhero? Semua wanita suka superhero seperti halnya semua wanita suka indomie dan mecin.

Ngomong-ngomong saya habis upload resep olahan Indomie super enak di sini.

Sunday, January 31, 2016

Surat Dari Praha

Saya jarang membahas film, karena saya memang nggak merasa mampu bikin review film. Tapi kali ini saya bukan mau me-review film. Saya nggak akan mengomentari soal akting, sinematografi, alur, dan lain sebagainya.

Beberapa hari yang lalu, saya dan suami nonton Mata Najwa. Segmen yang kami tonton saat itu membahas tentang mahasiswa-mahasiswa Indonesia jaman dahulu, yang dikirim Soekarno ke luar negri untuk belajar, namun tidak bisa pulang karena situasi politik di Indonesia pada saat itu.

Ngomong-ngomong soal orde baru, generasi saya mungkin adalah generasi yang paling akhir "ngeh" soal kekejaman Soeharto. Generasi adek saya bukan tidak tau sejarahnya loh ya, tapi kalau saya melihat sih (dari adek saya dan teman-teman sebayanya), mereka tahu tapi cuek.

Saat tragedi pemerkosaan dan pembantaian masal 1998, saya sudah SMP. Usia itu boleh dibilang masih kecil sih, tapi di usia itu saya dan (saya rasa) teman-teman sebaya saya yang lain juga sudah mengerti apa yang terjadi. Mereka pasti tahu apa yang menimpa saudara-saudara kita yang beretnis cina. Dan kalau tau nggak mungkin kan mereka nggak mencari tahu apa penyebabnya? Bagaimana kejadiannya? Awal mulanya? Dan lain-lainnya.

Saturday, January 30, 2016

Kepo To The Max

sumber gambar: hot.detik.com
Saya punya kebiasaan yang lumayan mengganggu. Mengganggu buat orang lain dan nggak dipungkiri kadang mengganggu juga buat saya sendiri. Yaitu kebiasaan untuk harus tau segalanya. Saya sebenarnya nggak begitu "ngeh" sama kebiasaan saya yang satu ini, karena udah kayak natural aja ya saya melakukannya. Saya baru ngeh ketika salah seorang teman baik saya mengatai saya "selo". Selo karena saya bisa tahu suatu gosip sampai detail, dan karena saya kalau baca suatu artikel atau status media sosial selalu sampai ke komen-komennya.

Saya juga nggak tau tingkah laku selo saya ini awalnya gimana. Tapi ngganjel nggak sih ketika kamu tahu sesuatu, tapi cuma sedikit? Memangnya nggak penasaran ya? Terus kalau tahu cuma di permukaan saja, bukankah malah akan besar kemungkinan timbulnya praduga yang tak diinginkan, fitnah, dan sebangsanya? Dan kalau kamu seorang blogger, menurut saya kebiasaan untuk mencari tahu sesuatu sampai detail itu pengaruhnya akan bagus sekali untuk kualitas tulisan-tulisan kamu.

Contohnya waktu saya dengar kalau Fedi Nuril nikah. Jujur aja sih, saya suka cowok gantheng. Dan Fedi Nuril itu gantheng. Jadi saya suka Fedi Nuril. Tapi nggak spesial juga, karena cowok gantheng di dunia bukan cuma Fedi Nuril. Intinya ya saya suka dia tapi nggak lebay. Pun saya sebenernya suka banyak hal, tapi nggak ada yang lebai.

Ketika saya mendengar berita Fedi Nuril nikah, saya lumayan tertarik dengan berita tersebut. Kenapa? Ya karena gantheng! Gimana sih? Udah dijelasin juga..

Friday, January 29, 2016

Tenda Sunatanku

Ngomong-ngomong, saya kangen sekali nulis di blog pribadi kayak begini. Maksudnya blog sebelah (www.racunwarnawarni.com) juga blog pribadi saya sih. Cuma blog sebelah itu sudah terlalu ramai, dan yang jelas sudah dikomersilkan. Terlalu banyak pencitraan (dan juga haters) di sana. Jadi udah yang kayak kewajiban aja kalau saya menyambangi blog tersebut.

Dan setelah sekian lama saya buka lagi blog yang ini, rasanya agak kayak pulang ke rumah...

Mungkin saya harus mulai meluangkan waktu lagi untuk nulis-nulis di sini yah? Meskipun sedikit dan nggak jelas yang penting blog ini nggak mati suri. Biar hati saya nggak panas kayak blog sebelah. Biar pikiran saya adem kayak tenda sunatan.

Tuesday, May 5, 2015

Gosok! Gosok! Sip!

Sedang lelah dengan blog pencitraan, jadi saya kembali di sini. Ternyata blog ini sepinya khan maend! Blah!

Kali ini saya mau ngomongin gosip. Bukan, bukannya mau nggosipin orang. Saya lagi nggak ada bahan nih buat nggosipin orang. Tapi saya mau tanya, adakah diantara kalean yang pernah ataupun sedang diterpa gosip tak sedap?

Saya...sering. Hahahaa... Diantara gosip yang beredar, ada yang memang fakta, ada yang hasil mengarang bebas masyarakat. Tapi yang mana yang fakta dan yang mana yang gosip, saya pun nggak pernah konfirmasi. Saya nikmati aja selayaknya saya ini Agnez Mo. Huahaha... Bahkan ada beberapa gosip yang sangking lucunya, sampai digosok atau di tambah-tambahi dengan tidak logis oleh....saya sendiri :D.

Cerita-cerita aja yuh, gosip yang paling membekas di saya apa aja.


Monday, March 23, 2015

Baju Couple, Yay or Nay?


Kalau saya mah YAY!

Oke artikel selesai.

Buahahahhaaa....ya enggak dooong. Nggak cuma sampai kepada jawaban saya aja. Tapi saya mau cerita-cerita juga kenapa saya jawab yay!

Kalau lagi nongkrong sama temen saya yang masuk golongan jomblo menahun gitu tuh, terus lihat orang pacaran pakai baju couple, pasti langsung deh, itu mulut yaaaa, pada nyinyir! Kalah deh buibu arisan! Pokoknya itu pasangan berbaju couple akan dihujat habis dari A sampai Z. Dari abege labil sampe norak. Dari sok romantis sampai kayak panitia pekan olahraga. Pokoknya habis deh dikuliti dan dijadikan bahan perbincangan yang sebenernya dosa mah. Padahal yaaa, se-norak-noraknya itu pasangan, seenggaknya diana nggak kaya elu yang nggak punya pasangan. #kemudiankicep :D.

Saya sendiri termasuk yang demen banget sama baju couple. Mulai dari batik sarimbitan sampai baju kaos yang lucu-lucu. Sukak deh rasanya pakai baju kembaran sama suami. Rasanya tuh kompak gitu loh. Ya misalkan ada yang bilang norak, paling enggak kan kami noraknya kompakan. Kalau situ mau kompakan sama siapa? Sama tiang jemuraaaannn? bahahahaaa...

Jaman saya masih di Jogja, saya suka-suka aja hunting jalan kemana untuk cari-cari baju couple. Tapi setelah saya di Jakarta. Hmm...kok males banget yaaa? Macet lah, panas lah, udah gitu kayaknya waku tersita buat kerja kan. Kalaupun pas ada waktu luang, mendingan saya habiskan buat pacaran sama suami, pake baju couple. Bhihihik!

Hmm...sebenernya pakai baju couple mah nggak selalu harus sama pacar/suami. Kamu bisa kok ajakin sahabatmu untuk pakai baju kembaran. Atau saudara kamu. Tetep bisa kompak-kompakan walau kalau malam minggu datang tetep aja mojoknya sama tiang jemuran :D.


Friday, January 23, 2015

Menutupi kebodohan

(Peringatan: post ini mengandung konten menjijikan. Jangan dibaca sambil makan)

Beberapa hari yang lalu, saya melihat kucing item saya, Jim Beam, sedang poop. Nggak, nggak...saya bukannya sakin kurang kerjaannya ya sampai melakukan pengamatan mendalam terhadap kucing yang sedang pup. Kebetulan itu saya lagi mau ambil cucian dari mesin cuci. Nah, kamar si Jimbim ini memang satu ruangan sama mesin cuci. 
Karena saya sedang selo dan baik, jadi saya mau menjabarkan denah ruangannya. Begitu masuk ruangan, kita akan langsung berhadapan dengan mesin cuci. Sebut saja mesin cuci ini ada di pojok kiri ruangan yah, berhadap-hadapan dengan pintu. 

Lalu  pada dinding diatas mesin cuci, saya tempel handmade rack dua tingkat. Tingkat pertama isinya detergent, pewangi pakaian, sikat kain, baygon semprot, pewangi ruangan semprot, obat pel, dan produk-produk rumah tangga lainnya. Sedangkan di tingkat kedua saya gunakan untuk menaruh Royal Canin, sabun dan sampo jimbim, sikat dan sisir jimbim, obat-obatan jimbim, dan segala ubarampe perkucingan.

Di sebelah mein cuci, saya taruh keanjang tidur si Jimbim. Lalu di bagian pojok ruangan, ada bak pasir untuk toilet jimbim, dan juga wadah makanan serta minuman jimbim. Makannya sih dijatah ya, nggak selalu disitu. Kalau belum jam makan ya makanannya saya simpen. Tapi kalau minum, selalu tersedia.

Hmm...kasian ya Jimbim boboknya bareng mesin cuci? Tapi dia sekarang jarang sih tidur disana. Dia lebih suka tidur di sofa ruang tamu, depan televisi di ruang depan. Dia bobok di situ kalau cuaca lagi dingin atau dia lagi sakit aja. Soalnya keranjang tidurnya memang anget sih.

Oke, back to poop!


Sirik

Saat ini saya sedang mengalami sesuatu yang nggak sehat. Yaitu: saya sedih liat temen seneng. Saya berbagi bukan karena bangga yah. Saya berbagi karena butuh tempat curhat.

Katanya, kalau kita kesel ketika liat orang lain seneng (seneng yang positip), namanya kita sedang sirik. Dan alasan dari sirik adalah karena kita pengen seperti mereka tapi kita nggak bisa. Iya, saya sirik.

Saya punya temen yang udah lama banget nggak ketemu. Dulu kami sama-sama di Jogja, jadi sering ketemuan. Sekarang udah jauhan ya susahlah mau ketemu. Paling BBM-an atau email-an.

Dulu saya pernah cerita sama dia kalau saya pengen banget punya kerjaan yang ada hubungannya dengan tulis-menulis, dan saya pengen bisa keliling dunia. Kalau dia nggak pernah punya cita-cita kayak begitu. Dia dulu orangnya standart banget, kerja kantoran, dan pengen hidupnya terus stabil. Pengennya dapet jodoh juga nggak jauh-jauh dan menetap nggak jauh-jauh dari orang tua, mapan, kawin, beranak pinak, lalu mati bahagia. Itu cita-cita dia.

Tapi ternyata dia yang lulusan fakultas hukum itu malah kerja dibidang tulis menulis, dan pekerjaannya membawa dia keliling Asia. Bahkan sekarang dia sedang dalam proses menulis bukunya sendiri.

Beberapa waktu yang lalu kami ndilalah bisa ketemu. Dia cerita ini dan itu soal kesuksesannya. Dia bilang, lucu, inikan cita-cita kamu. Saya bilang, nggak lucu, aku benci sama kamu ih. Dia makin cengengesan dan makin sombong. Makanya jangan kawin kecepetan. Menghindari dosa, jawab saya. Prek, kata dia.

Ndengerin cerita dia malah bikin saya makin sewot dan uring-uringan. Sampai akhirnya saya bilang ke dia untuk nggak ngabarin saya apa-apa, karena hidupnya bikin saya sedih. Di iya-in. Eh..baru seminggu saya udah kangen dan saya yang BBM dia duluan. Makin sombong dong dia.

Salah nggak sih kalau saya kesel? Manusiawi kan ya saya sirik? Tapi kok saya merasa nggak sehat ya? Ya semoga aja kesirikan saya ini bisa memacu saya untuk menjadi lebih baik lah ya. Jadi nanti gantian saya yang bisa sombong ke dia.

Thursday, January 15, 2015

Hilang

Saya pernah mendengar sebuah quote, lupa dimana. Karena situasinya saat itu sedang horor, jadi yg saya rasakan adalah merinding mistis. Sekarang sedang tidak horor dan mendadak saya teringat quote tersebut.

"Tidak ada yang benar-benar hilang di dunia ini. Apapun yang disebut hilang itu, sebenarnya masih ada. Hanya belum terlihat."

Tuesday, December 16, 2014

Doakan Teman Saya, Ya...

Semalam saya bermimpi soal teman saya dan Dien-chan, dan lumayan absurd. Oke, teman saya mungkin nggak absurd, karena saya dan suami beberapa kali membicarakan dia (dengan frustasi) akhir-akhir ini. Saya mau cerita sedikit soal mas-mas ini. Teman saya ini adalah temen deket saya dan suami saya sejak jaman kuliah s1, dia seangkatan sama kami. Kami udah traveling kemana-mana barengan dan melewati banyak hal.

Nah, kalau Dien-chan, baru super absurd. Bukan karena dia absurd :p, tapi karena sebenernya saya nggak kenal dia di dunia nyata, nggak lagi mikirin dia, dan bahkan nggak ada yang akhir-akhir ini ngomongin dia ke saya. Oke, Adien ini adalah salah satu blogger yang blognya saya follow. Ini blognya: http://dien-chan.blogspot.com/. Kesan saya orangnya manis, girly, dan suka make up. Selebihnya nggak tau ya. Karena beneran saya nggak kenal, cuma sesekali komen-komenan, bahkan nggak pernah chating, dan si Adien ini juga kayaknya nggak pernah koar-koar soal kehidupan pribadinya di blog.

Balik ke temen saya, diantara temen-temen deket saya yang lain, teman saya yang satu ini punya karakter yang paliiing baik. Orangnya care sama temen, punya empati yang luar biasa tinggi, selalu mau mendengarkan kalau ada yang gundah dan kemudian curhat, jarang marah, selalu mau kalau dimintain tolong (ya selama dia bisa, tapi seringnya bisa), pokoknya paling bisa diandalkan deh. Teman saya ini juga kalau saya lihat-lihat sebenernya lumayan gantheng deh rrrr....kalau dia mau sedikit lebih sering mandi dan sedikit perhatian sama pakaiannya.

Tapi ada satu kekurangan fatal yang terus terang aja meresahkan kami semua. Mungkin memang bukan urusan kami-kami secara langsung, tapi karena kami peduli, dan kami dicurhatin emak-nya (HA!), mau nggak mau itu kemudian jadi urusan kami. Dia ini belum lulus s1! Oh iya, kami ini angkatan 2003! OMG! Hitung sendiri lah ya berapa kali dia kuliah s1! Bahkan saya dan beberapa teman yang jenjang pendidikannya lebih dari s1 sudah lulus bertahun-tahun-tahuuunnn yang lampau.

Saya sih nggak masalah dengan orang lain yang belum lulus. Saya nggak comel sembarangan sama urusan orang kok, saya juga nggak bisa dong mencurahkan seluruh emosi jiwa saya ke semua orang yang saya kenal yang belum lulus. Tapi ini Dia, dan ini beda karena saya peduli. Saya dan teman-teman yang lain lebih tepatnya! Karena kepedulian kami, dan karena sepeduli-pedulinya kami, kami juga nggak bisa berbuat apa-apa, karena skripsi hanya bisa diselesaikan dengan kemauan pribadi si pembuat, jadi yang kami lakukan adalah menyindir.


Saturday, November 29, 2014

Kenapa Email Saya Nggak Dibalas, Kak?

Sekitaran minggu lalu saya dapet email dari seorang reader, yang ditulis dengan penuh emosi jiwa :D. Kata-katanya lumayan pedas, menggairahkan, menggelora, memancing air mata, sekaligus mengundang tawa saya. Email tersebut ditutup dengan kata-kata mutiara: "Allah nggak tidur!" Beehhh...dalem!

Ya sudah kita persingkat saja, inti dari email tersebut adalah: "kenapa kamu nggak pernah membalas email saya?"

Saya nggak balas di email kepada yang bersangkutan langsung karena saya rasa banyak disini yang mengalami emailnya nggak saya balas. Bukannya saya mau sok ngartis, sok sibuk, sok oke, atau gimana gitu ya. Tapi sejujurnya saya ini orangnya pemalas. Misalnya nih, saya udah pernah menjelaskan tentang hal itu, tapi ditanya lagi ditanya lagi, saya malas aja jawabnya. Padahal nih ya, belum tentu orang yang ngimel saya itu baca. Ya disitulah salahnya saya. Saya menyama ratakan semua orang :D.

Maka, dengan post ini saya mau memperbaiki kesalahan saya. Post ini juga semoga aja bisa jadi solusi kemalasan saya. Jadi bila ada yang ngemail dan saya malas balas panjang lebar, saya tinggal ngasih link ke post ini, dan orang tersebut saya harapkan mengerti kenapa-kenapanya.

Email yang nggak akan saya balas adalah:


Thursday, November 13, 2014

Selingkuh Semalam

Obrolan pas bangun tidur

Saya: "aku selingkuh!"
Suami: "kapan?"
Saya: "Semalem."
Suami: ..... *bobok lagi*

***

Jadi memang udah lama banget saya merencanakan pengen ke Bali, untuk kesekian kalinya. Ahelah, wisata kok ke Bali. Menstrim amat, mbak? Ya terserah lah orang mau bilang apa. Tapi Bali itu memang punya kenangan dan arti tersendiri buat saya. Jadi memang selalu ada tempat di ruang hati bagian kangen saya untuk pulau itu.

Kebetulan banget, akhirnya saya dapet tiket pesawat ke Bali, dan kebetulan juga waktunya pas pas pas banget. Jadilah saya berangkat sendirian. Tapi tentunya nggak enak dong ya, wisata sendirian. Mmm...walau nggak masalah juga sih, saya udah biasa mah pergi sendirian. Lebih enak kalau dibanding pergi sama orang yang reseh. Tapi kalau paling ideal sih memang pergi sama orang yang menyenangkan. Sukur-sukur si orang menyenangkan itu juga gantheng.

Sebenernya saya udah ngajakin seseorang buat nemenin saya pergi. Tapi dia nggak bales ajakan saya. Beneran nggak bales. Menolak enggak, tapi bilang ho'oh juga enggak! Nyebeliiinnn banget deh. Rasanya tuh gondok sampai ubun-ubun. Padahal buat ngajakin dia tuh saya udah ngumpulin keberanian. Kalau ditolak kan malunya setengah mati. Terus juga saya ngumpet-ngumpet dari suami saya.

Sampai hari H ternyata dia tetep aja nggak respon. Ya sudah lah, mumpung waktunya juga pas, yang mana saya belum tentu tahun ini dan tahun depan punya waktu lagi untuk ke Bali, akhirnya saya berangkat sendirian. Pas packing pun saya masih merasa setengah gamang. Sedih banget tau nggak seeehhh, rasanya, dicuekin!


Friday, October 24, 2014

Alasan Satu Sampai Enam & Apa Kata Sophia Latjuba


Salah satu online shop yang bekerja sama sama saya di blog sebelah bilang: "stress lu. Hobi kok pindahan!" Hahahaa... Iyee. Yang ngikutin saya secara nyata dua tahun belakangan ini memang hidup saya kelihatannya rubes. Super happy tapi rubes!

Bayangin aja, saya kan awalnya kerja di Jogja yah. Lalu tiga bulan sebelum nikah, saya resign dan pindahan gitu ke Solo, ke rumah orang tua saya. Saya di Jogja udah selama 10 tahun, dan udah ada rumah. Kebayang nggak tuh rubesnya kayak apa. Mindahin 10 tahun kehidupan saya. Belum lagi saya orangnya super rempong, agak susah kalau disuruh buang-buang benda-benda yang bagi saya punya nilai histori. Eh, bahkan disuruh ngebuang kardus bekas kosmetik aja saya susyeeee. Selalu yang diotak saya tuh, "duh, besok kalau butuh pegimane dooong?!"

Setelah 3 bulan di Solo, jadi anak mami lagi, kemudian saya diboyong ke Jakarta oleh suami saya. Lagi-lagi pindahan bok. Mindahin seluruh kehidupan saya ke Jakarta. Itu lebih rubes lagi, karena kali ini saya kan mau menetap. Kalau pas di Solo kan di pikiran saya, saya hanya sementara tuh, sampai nikah aja. Kalau yang di Jakarta ini entah sampai kapan, sampai suami dimutasi kali yaaa.

Awal di Jakarta, saya dan suami belum dapet rumah, jadi masih tinggal di kos suami, di daerah Tebet. Sekitaran 3 bulanan lah saya disono. Dan gara-gara ngekos ini saya dapet pelajaran berharga, orang jaman sekarang ternyata lebih mentingin gengsi dan pandangan orang lain dibandingkan dengan kenyamanan hidup! Atau bagi mereka, kalau kelihatan miskin dan nggak gaya itu sama dengan nggak nyaman ya?


Tuesday, September 9, 2014

Suatu Hari di Cathedral


"Diajeng, meskipun Mas ini tidaklah gantheng, tapi Mas fotografer loh! Mari kubuktikan. Akan kupotret wajah ayumu dengan kamera mahalku, berlatar belakang Cathedral yang megah. Tapi setelah ini kita pacaran ya."

***


Minggu lalu saya memang ke Cathedral Jakarta. Suami saya kaget waktu ujug-ujug saya ngajak ke Gereja. "Iya, saya sedang kepingin foto-foto." Yang merasa niat saya pergi ke Gereja salah, tolong jangan komentar karena niat ibadat ataupun niat hidup saya bukan urusan kamu.

Cathedral ini adalah sebuah bangunan gereja yang sangat mewah dan megah, sekaligus mempunyai nuansa romantis. Ketika perayaan ekaristi digelar, pada bagian atapnya yang super tinggi akan tetap ada burung-burung gereja yang berterbang kian kemari. Iya, burungnya ada di dalam ruangan gedung Gereja. Tapi tenang, karena sampai saat ini belum ada jemaah (seperti suami saya) ataupun turis (seperti saya) yang mengeluh ketiban tahi saat berdoa atau foto-foto.

Untuk membuktikan bahwa saya sungguh-sungguh ke Cathedral, saya akan suguhkan foto diri saya dengan latar belakang Cathedral, walaupun suami saya bukan fotografer dengan kamera mahal:



***

Yang tertulis pada baris paling atas adalah dialog imajiner yang melintas di benak saya, ketika melihat hasil foto saya yang paling atas tersebut. Pada bagian tengah Cathedral, tepat di depan altar, ada seorang mas-mas kerempeng dengan DSLR yang tampak berat, sedang membidik seorang perempuan modis bergincu merah yang saya sinyalir sebagai bribikannya.

Dialog tersebut tercipta karena saya ingat pernah dicurhati oleh seorang teman saya. Adiknya teman saya, tepatnya. Dia masih kuliah, masih remaja, cantik, ceria, kinyis-kinyis.

"Mbak, aku jomblo!"
"Kasian. Masih jaman?"
"Makanya, cariin dong?!"
"Masa nggak bisa cari sendiri? Katanya miss gaul?"
"Maunya sih pacaran sama fotografer..."

Saya kemudian jadi teringat lagi, beberapa kali ada remaja yang cerita ke saya, bercerita ke orang lain kemudian diceritakan ke saya, ataupun saya lihat dari status facebook dan timeline twitter-nya, bahwasanya dia: kepingin punya pacar fotografer.

Oh iya, saya juga punya teman, laki-laki, pekerja kantoran, domisili Solo, jomblo (sekalian ini dia minta numpang promosi). Baru-baru ini dia mendadak saja kepingin beli kamera mahal dan belajar fotografi. Bukan sebagai profesi cuma sebagai hobi. Beberapa kali saya lihat di akun facebook-nya, hasil jepretannya yang rata-rata adalah dedek-dedek remaja perempuan dengan pose yang sedikit mmm...nyeni :D.

Suatu saat saya iseng tanya ke dia:
"foto situ kok mbak-mbak seksi mulu, Mas?"
"Iya dong. Masa mau moto mbak-mbak nggak seksi kayak situ."
"Pret! Maksudnya moto pemandangan gitu lho mas sekali-sekali."
"Iya, moto gunung kembar."
"Pret! Kenapa mendadak suka moto mas?"
"Seneng aja. Ternyata asik banget! Bla bla bla" *bercerita soal fotografi, yang saya nggak mudeng*
"Ooo.." *manggut-manggut sok yes* "Ada keuntungan lain?"
"Berhubung aku memang nggak niat kerja di sektor ini, ya kalau maksudnya keuntungan uang nggak ada. Tapiiii...aku jadi digandrungi dedek-dedek seksi. Ihik!"

***

"Kamu masih pengen punya pacar fotografer?"
"Masih, mbak! Mau ngenalin?"
"Mmm...memangnya kenapa sih kepengen punya pacar fotografer?"
"Soalnya aku suka difoto"
"Wah, mendingan kalau gitu pengen punya pacar milyader aja. Kalau cuma pengen difoto, kan bisa tuh minta dibayarin fotografer papan atas. Sekalian minta dibeliin outfits buat kamu tofoto. Plus dibayarin nyalon sebelum foto biar hasil fotomu makin kinclong. Juga dibayarin member gym biar pas difoto kamu udah agak seksian dikit. Dan setelah sesi pemotretan kan laper tuh, bisa mintak dibayarin makan di restoran mahal"
"...."

***

Tulisan ini nggak bermaksud apa-apa. Cuma obrolan basi. Toh saya juga punya mantan pacar yang profesinya fotografer. Dan suami saya walau bukan fotografer tapi juga hobi fotografi. Dan saya juga suka difoto-foto ala model gitcyu #poseseksi.

Thursday, August 28, 2014

Hati-hati Mengatai

Dulu ketika saya masih muda dan bumi belum sepanas ini, pernah ada lagu beken yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi atau raper ya saya lupa? Lirik bekennya:
"Muke lu jauh!"
"Ke laut aja!"

Kebekenan itu menyebar di seantero kawasan tempat nongkrong anak gaul dan ter-uptudate di daerah saya. Saya pun ter-influence, karena saya dulunya masuk dalam spesies anak gaul. Atau dimasuk-masukin lah ya. Kalau sekarang sih status saya nyonya gaul.

Akibat dari virus itu adalah saya sering mengatakan, "ke laut aja!" ke muka orang yang saya sebelin. Sebagai anak muda, saya dulu berdarah panas. Gampang terpancing emosi dan tentu saja banyak muka orang yang saya teriaki saya suruh pergi ke laut.

Sampai suatu ketika salah seorang teman dekat saya menegur:
"Kayaknya semua orang di kota ini udah kamu suruh ke laut deh! Kamu nggak liat, kota jadi sepi? Karena pada rame-rame piknik ke laut."

Akhirnya karena kesepian, saya pun packing dan nyusul ke laut.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...