Translate

Friday, August 10, 2012

Ketika Nasib Mengajak Bercanda, maka Aku Memilih untuk Tertawa


Aku mengawali hari dengan mematahkan kuku telunjuk kiri. Sakit. Karena kukunya patah terlalu kebawah. Aku cuma memberi betadine sekenanya lalu berangkat kerja. Siangnya, saat berjalan di dalam ruangan kantor, mendadak kakiku terantuk. Kuku jempol kakiku sedikit melesak kedalam. Sakit bukan main. Aku meneruskan pekerjaan sambil meringis-ringis. Setelah jempol kaki mereda, kuku jempol kanan berganti membuat ulah, patah dan berdarah. Baiklah, baiklah. Aku akan segera membeli lotion penguat kuku, Ku *ngomong sama kuku*.

Dan Flashdisk-ku hilang...

Kebetulan hari itu aku berkerja sampai jam 6. Dan Tintaz mengajak kencan di Mirota Kampus. Setelah belanja, kami sepakat akan menutup hari itu dengan dinner cantik di Nasi Goreng Babi deket Papilon.


"Ketemu di TKP, ya!" Kataku di parkiran motor.


Maka kupacu motor kearah Nasi Goreng Babi deket Papilon. Sampai disana aromanya sungguh menggoda. Tapi Tintaz belum juga sampai TKP. Maka ku ambil HP, maksud hati ingin menghubungi Tintaz. Ternyata Tintaz telah duluan mengirim pesan.

"Masih di Mirota, ses. kunci motorku hilang..."


Lalu motor ku ambil kubelah jogja, ke arah Mirota. Disana Tintaz masih cemas mencari-cari kunci. Aku mengusulkan untuk menelusur lagi kedalam. ~ sejujurnya aku tahu kalau ditelusur kedalam pun nggak akan ketemu. Cuma menurut pengalaman, di situasi panik begitu, akan lebih baik bila bergerak dan mengerjakan sesuatu ~. Lalu kami menelusur kedalam, lapor satpam, ke lantai 2, lapor ke bagian informasi, segala hal kami lakukan. Tapi kunci tak kunjung ditemukan.


Kami keluar lagi, dan kembali menanyai tukang-tukang parkir. "Nggak tahu," kata mereka sambil lalu. Ketika aku duduk dlosor di bawah tanaman dekat parkiran itu, ada seorang tukang parkir yang sepertinya iba dengan kami, dan berkata, "kalau kami menemukan kunci, pasti bilang kok, mbak".


Aku dan Tintaz cuma mengangguk-angguk linglung.


Setelah lama dalam kondisi bingung dan bengong di parkiran seperti artis ibukota tersesat di desa, tiba-tiba salah seorang tukan parkir mengambil kunci, dan menyerahkan kepada kami. Kata Tintaz, tukang parkirnya lupa dan kurang koordinasi. Tapi sampai sekarang yang masih terpikir dibenak adalah kami dikerjain. Baiklah, memang Tintaz sedang berperan sebagai mbak-mbak optimis dan baik hati, sementara aku kebagian peran jadi mbak-mbak antagonis saat itu.


"Ketemu di TKP, ya!"

Kembali kuulang kata yang sama, dan memacu motor ke warung Nasi Goreng Babi idola idaman kita.


Persis ketika meletakkan motor di tempat parkir. HP berbunyi, dan muncul lagi sebuah pesan:


"Aku ditabrak orang di Raminten, ses".


Terserah mau bilang aku jahat atau apa, tapi aku benar-benar geli saat itu. Sambil tertawa-tawa sendiri,kuambil motor lagi. "Nggak jadi lagi, mbak?" Tukang Parkir usil bertanya, aku masih tertawa.


Di depan Raminten, aku melihat kerumunan orang, dengan Tintaz diantaranya, dengan kaki luka-luka, maskara belepetan bekas menangis, dan tampang judes ala Soraya Montenegro ~ tau Soraya montenegro? Dia tokoh antagonis di Telenovela "Maria Cinta yang Hilang". Soraya Montenegro inilah yang membentuk standarku akan tokoh antagonis, sehingga aku nggak pernah terkesan lagi dengan tokoh antagonis ala sinetron Indonesia ~.


Aku dekati tempat kejadian itu. Semua orang yang berada disana sedang berebut bicara, kecuali: Tintaz dan sang penabrak. Entah ya, aku benar-benar malah merasa kalau mereka yang disana memperkeruh suasana. Padahal antara Tintaz dan si penabrak sudah tercapai kesepakatan memaafkan-dimaafkan dan ganti rugi, tetapi orang-orang di tempat kejadian malah sok-sokan. Semua berebut caper. Mungkin maksudnya baik, tapi serius, menjengkelkan! Dan membuat masalah yang sebenernya simpel jadi rumit.


 Kaki kanan Tintaz yang sudah diperban. 
Itu hanya bagian yang telihat. Masih banyak memar yang tertutup pakaian.



Bahkan seorang bapak *yang kemungkinan penduduk situ* tak dikenal mendadak datang, berbicara dengan suara tinggi memarahi kami, yang intinya: "Ya nggak bisa kalau mbak'e minta semua orang dijalan harus hati-hati?!! Namanya musibah kok nyalah-nyalahke! Mbak'e maunya apa tho??!!!!" Dan itu terus diulang-ulang sampai menyulut emosi kami yang berada di sana. Karena kami hanya diam dan mencuekinya, si bapak provokator semakin marah, mengeraskan lagi suaranya, sambil menunjuk-nunjuk penuh emosi, "MBAK'E ORANG MANA TO?!! RUMAHE MANA?!! TAK LAPORIN SAJA KE POLISI!!!!"


Heloooooo.... Kami ini yang di tabrak, Pak! Kalau situ lapor polisi, kami malah kasian sama mas-mas yang menabrak, yang sedang bapak sok bela-bela dari tadi. Malah habis uang banyak dia karena harus bayar polisi. Pada tau kan tingkah polisi jaman sekarang kaya apa?


Yah...mungkin memang sinetron Indonesia itu kurang seru dan masih kurang di dramatisir. Jadi masyarakat masih perlu mencari hiburan drama dengan menjadi provokator di setiap kesempatan yang ada. Cc: Raam Punjabi.


Singkat cerita, aku meminta teman menjemput untuk membawakan motor Tintaz dan mengantarnya sampai ke rumah. Tapi sungguh, semua kejadian ini membuatku tertawa terbahak-bahak. Angin nasib nggak mengijinkan kami untuk makan nasi goreng babi. Jadi aku memilih mengikuti saja. Karena kulihat nasib begitu gigihnya. Jadi aku berpikir mungkin memang ada sesuatu yang nggak boleh di langgar pada saat itu.

Dan aku masih tertawa, tersenyum-senyum mengingat kejadian hari itu, seperti orang jatuh cinta. Bukannya senang karena Tintaz luka-luka dan nggak bisa luluran. Tetapi hanya menertawakan keseriusan nasib kali ini dalam menghalangi jalan kami menuju tempat yang ingin kami capai. Mungkin nasib sedang melindungi kami dari sesuatu. Atau mungkin hanya cemburu karena kami akan melewatkan malam yang seru :))))).

Apapun itu, aku memilih untuk tertawa. Tertawa atas kuku, flasdisk, luka-luka, perut lapar, dan persahabatan pada hari itu. Dan menyimpan tangis untuk mereka yang tidak mendapatkan rejeki pada hari ini. Semoga mereka dikenyangkan, seperti kami, yang walau dengan jalan berliku, akhirnya dikenyangkan juga.


Tintaz dan teman saya yang menolongnya.
Sungguh, Ses. Bukan kepada aku kamu berhutang ucapan. Karena aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan ketika terjebak dalam situasi itu. Tapi kepadanya, yang secara sadar menceburkan diri ketika ribuan alasan untuk lari tersedia :)))))


FYI, kami memilih mencari makanan lain, yang kami lewati dalam perjalanan pulang....


NB: Dengan segala hormat, saya tidak suka membawa-bawa nama Tuhan dalam situasi sepele seperti ini. Saya sudah menerima banyak reaksi, "makanya banyakin doa dan amal," yang hanya saya balas dengan, "amalku bukan urusanmu!" Jadi bagi yang akan berkomentar dengan membawa nama Tuhan, amal, doa, dan segala atribut religius lainnya, saya tidak akan meladeni. Karena hubungan saya dengan Tuhan bukan urusan orang lain. Hubungan saya dengan Tuhan terlalu romantis untuk kalian campuri.

NB lagi: Saya menulis "nasib" dengan "n" kecil.

16 comments:

  1. ealah, kapan kejadiannya ini ses? saake banget ih ses Tintaz. dia masih shock ndak? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahaha.... aku sih biasa aja, ngga shock kok, cuma ya agak geregetan aja. belum hilang sebalku karena kunci ilang di mirota, eh masi ditabrak orang. sumpah, itu hari terkonyol di sepanjang hidupku, kalo inget aku cuma bisa menghela nafas kemudian tertawa dan berkata: kok bisa????

      ada satu tokoh yang ses celle lupa, bapak2 yang rumahnya ganjuran :)) dia baik banget loh, cuma ya itu, kebaikannya terlalu berlebihan. aku malah jadi merasa gimanaaaa gitu, rodo risi sithik. hehe *maap*

      terimakasih banyak ses Celle, mas Ndok, mas Ringga, kalian super sekali :)

      Delete
    2. oiaaaa, satu lagi, ternyata tujuan ku dan si penabrak sama-sama mau makan nasi goreng babi. namun nasib berkata lain, aku, si penabrak, ses celle, dan teman2 si penabrak ngga jadi makan nasgorbi (atau lebih tepatnya: tidak diijinkan makan nasgorbi) ahhhh!! ini bukan suatu kebetulan kurasa. bukan.... *kembali ketawa ngekek*

      Delete
    3. Sengaja dilupakan, ses. Soalnya aku blas nggak simpatik sama dia. Kalau tak tulis ntar jadinya cuma jelek2nya aja, padahal aku tau dia yang niatnya paling baik saat itu :D

      Delete
  2. seeeeees, kemarin juga feelingku ndak enak.. cepet2 meh puyang sekolah.. rasanya risih gitu. sampe rumah juga ngantuk banget tapi ndak isah bobok cantik. ><
    btw Alhamdulillah kamu selamet ses.. nggak kurang suatu apapun, Tuhan masih melindungi kamu ses ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak peka orangnya, ses. Jadi jarang punya feeling gag enak apa gitu. Mungkin terus nasib jadi gemes, ni orang gag kerasa2. Wis lah tabrakne wae.

      Hahahahahahahahahaha....

      Delete
    2. aih aih... so sweet bgt miss klep...

      Delete
  3. Uwaa.. ya ampun.. nasib kalian..
    Alhamdulillah ses tintaz nda papa.. >.<
    Kok yo bisa yo tujuan kalian sama si penabrak sama.. ckck *msh takjub*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nggak papa, cuma m,asih memar2 dan pengen ketawa :))))

      Hooh, kayaknya kami sama2 nggak di restui makan babi. Haram kali ya? :D

      Delete
    2. mungkin di babian ada siapa gitu, ada orang yang ngga boleh aku temuin mungkin.... hehe

      Delete
    3. mungkin ada mas Ariel, ses. Kasian dek bubu kalau mas Ariel jatuh cinta sama kamu T.T

      Delete
  4. Replies
    1. Iya nggak papa. Cuma kesel + geli :D

      Delete
  5. aduh syukur deh masih ada untung nya,untung gak parah"amad y ses,iya tuh mungkin d larang makan nasi goreng babi kan haram jeuuung >.< hehe kalo buat muslim doang sih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha...itulah. Yang haram enak jew >'<

      Delete
  6. follow back berhasil kak... XD dengan nama dweesis XD keep in touch XD

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...