Translate

Saturday, November 28, 2009

saya belum bisa berdoa Bapa Kami :'{

sumber: http://wwwkotatua-ambarawa.blogspot.com
Jumat-sabtu ini saya dan Upil ziarah ke Gua Maria Kerep Ambarawa, bersama rombongan preman: Mas Bas, Mas Simbah, dan Klowor, rame-rame konvoi motor. Berangkat hari Jumat malam, pulang sabtu siang. Sebenarnya sih, janjiannya berangkat jam 4, tapi kemudian, karena satu dan lain hal jadi molor, berangkat jam 9 malam *jangan tanya*.

Kami sengaja menginap, karena jumat malam, kamar saya tak berkasur. Kasur busa lepek ukuran singel saya di bawa pulang oleh bapak saya, dan di ganti dengan kasur springbed ukuran king size ^^', yang baru datang hari sabtu siang.

Yang hebat dari ziarah preman ini, motor yang saya dan mas Bas naiki, tak ber-STNK. Jogja-Ambarawa tanpa STNK. Horor sekali bukan? Untung saya membonceng superhero, jadi saya percaya saja kalau semua akan baik-baik saja, dunia ini aman sentosa, dan kebaikan pasti berjaya!

Ziarah ini dilakukan untuk menggenapi doa nasib saya setelah lulus kuliah. Jadi belum lama ini, saya juga melakukan ziarah ke Gua Maria Sriningsih Klaten. Kata orang, kalau berdoa mohon di beri petunjuk bagi pencari kerja, ziarahnya ke Sriningsih. Nah..kalau ke Kerep ini, mohon petunjuk dan jalan bagi para pencari Jodoh. Hehe.. Sebenernya saya nggak ngebet-ngebet amat sih, mencari jodoh. Toh saya belum kerja mapan. Toh bapak saya juga belum mengijinkan saya menikah kalau saya belum mengambil gelar magister (ohh...kejaaammm!!!). Yang ngebet itu para preman, yang di desak umur dan harus segera mencari pasangan hidup.

Tapi bener-bener nggak rugi. Gua maria Ambarawa habis di renovasi, bajuuuuuusss banget! Taman-tamannya di buat untuk memproyeksikan peristiwa-peristiwa suci di perjanjian baru. Ada danau galilea, Sungai Yordan, Perjamuan Kana, peristiwa lima roti dan dua ikan,
makam Yesus, Surga, dan lain-lain (bagian surga nggak boleh di tengok sih..). Para preman itu terpesona, lalu mereka berangan-angan untuk melakukan photo pre-wedding di sana. Bayangkan preman gondrong sangar dan bercodet melakukan foto pre-wedding. Di gua maria pula!!!

Aduhh...saya kok bingung harus menulis apa yah? Saya nggak biasa posting yang serius-serius, apa lagi pengalaman religius..

Tapi gini, ada cerita yang sedikit aneh dan mengganggu hati saya. Saya akan mencoba menuliskannya walau terlihat "wagu". Jangan di ketawain yah..

Entah suasana yang mendukung, atau memang saya sedang berniat tulus dan berhati bersih untuk berdoa, saat itu, saya mengucap doa pelan-pelan dan menghayatinya. Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu.....Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Sampai pada kata itu, saya diam. Aduhh...saya nggak pantas di ampuni donk? Saya belum bisa mengampuni sesama saya.

Sungguh saya sudah berusaha melupakan kejadian-kejadian yang telah lewat. Saya sudah ihlas kan semuanya. Walau kejadian-kejadian tersebut banyak merubah diri saya dan banyak menggagalkan rencana awal saya tentang hidup saya, tapi saya mencoba untuk memahami, kalau itu memang jalannya nasib saya. Kalau suatu saat kelak saya akan merasa manteb juga dengan jalan yang saya jalani, yang sudah di gariskan dari atas. Tapi tetap saja, se-ikhlas-ikhlasnya saya, saya masih belum bisa melihat muka orang yang memporak-porandakan semuaaa rencana saya. Mana saya bukan tipe orang yang punya plan-b lagi!!! Orang yang dengan sengaja telah membuat saya kebingungan menghadapi rasa malu dan banyak pertanyaan dari orang-orang lain, dan juga kerepotan menata hidup saya lagi.

Saya benar-benar belum bisa memaafkannya. Saya benar-benar sudah berusaha sekuat tenaga. Saya sampai mengingat-ingat pengalaman teman-teman yang lain. Pengalaman Tjeu terutama. Tjeu itu gampang sekali memaafkan. Tipikal baik hati dan tidak sombong. Orang baik hati hidupnya enak. Hatinya tentram.

Saya bilang: "aku maafin kamu kok," sambil tersenyum ketika ada orang minta maaf. Saya juga berusaha bersikap baik walau hati saya sudah empet nggak karuan. Tapi dalam hati, saya...ya empet itu tadi!! Susah memang tulus memaafkan. Kalau membuat situasi nyaman dan bersikap seolah-olah memaafkan, belakangan ini saya terlatih sekali. Tapi saya nggak punya ketenangan batin ala Tjeu dan ala orang-orang yang memaafkan dan hatinya tentram lainnya.

Walau saya bersikap baik, selalu tersenyum dan menyapa, mendengarkan curhat-curhatannya, tapi jauuuhhh didalam lubuk hati terdalam, saya masih berharap suatu saat, dengan kekuatan bulan, akan menghukumnya!!!

Yah...begitulah. Walau kata orang, "dunia memang kejam, Jendral!!" Tapi saya nggak terima sama dunia yang nggak adil ini. Saya berharap suatu saat semua akan menjadi adil bagi saya (ya ya ya...kalau ada orang psikologi baca post ini, bakal bilang, keadilan itu subjektif kalau begitu).

Saya belum bisa meneruskan doa Bapa Kami yang saya mulai di Kerep...

Wagu , ya?

Semoga saya, upil, dan para preman baik hati ini cepat mendapat jodohnya. Semoga saya cepat bisa memaafkan dan merasa nyaman dengan hidup saya.

2 comments:

  1. tjeu.. memaafkan itu gampang.. gampaaannnggg banget..
    tapi yah.. kadang2 orang yang care sama kita itu yang gak terima..
    justru itu tantangannya..
    heheh..

    ReplyDelete
  2. susah tjeuuu...
    aku khan pendendam. Hukhuk..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...