![]() |
sumber gambar: |
Saya juga nggak tau tingkah laku selo saya ini awalnya gimana. Tapi ngganjel nggak sih ketika kamu tahu sesuatu, tapi cuma sedikit? Memangnya nggak penasaran ya? Terus kalau tahu cuma di permukaan saja, bukankah malah akan besar kemungkinan timbulnya praduga yang tak diinginkan, fitnah, dan sebangsanya? Dan kalau kamu seorang blogger, menurut saya kebiasaan untuk mencari tahu sesuatu sampai detail itu pengaruhnya akan bagus sekali untuk kualitas tulisan-tulisan kamu.
Contohnya waktu saya dengar kalau Fedi Nuril nikah. Jujur aja sih, saya suka cowok gantheng. Dan Fedi Nuril itu gantheng. Jadi saya suka Fedi Nuril. Tapi nggak spesial juga, karena cowok gantheng di dunia bukan cuma Fedi Nuril. Intinya ya saya suka dia tapi nggak lebay. Pun saya sebenernya suka banyak hal, tapi nggak ada yang lebai.
Ketika saya mendengar berita Fedi Nuril nikah, saya lumayan tertarik dengan berita tersebut. Kenapa? Ya karena gantheng! Gimana sih? Udah dijelasin juga..
Secara otomatis, dipikiran saya tuh muncul pertanyaan, siapa istrinya? Jadi saya kepolah. Dan ternyata, istrinya bukan artis! Wah kok bisa embak-embak biasa aja nikah sama Fedi Nuril? Ternyata karena broadcast BBM dan bla bla bla yang kamu cari tahu sendiri lah ceritanya banyak kok di google. Terus saya juga otomatis bertanya-tanya, kapan kenalannya? Kapan pacarannya? Dimana ketemunya? Mbak-nya orang mana? Kerjanya apa? Bagaimana reaksi fans Fedi Nuril menanggapinya? Secara idolanya yang artis, gantheng banget, dan super kelonable itu dapet mbak-mbak bias-bias kasih gitu loh...
Jadi saya add instagram si embak. Saya liatin satu persatu fotonya. Saya bacain komentarnya (yang jujur aja bikin eneq karena banyak orang alay menjadikan kolom komentar instagram tersebut ajang latihan misuh-misuh).
Pun ketika saya baca suatu artikel, apalagi kalau artikel ini menyampaikan opini penulisnya yang cukup mengundang kontroversi. Pasti saya mencari pendapat lain dari topik tersebut. Saya juga penasaran bagaimana respon orang-orang yang sudah membaca artikel tersebut. Makanya biasanya saya kemudian baca-bacain komen-komennya dan juga googling lagi topik-topik sejenis.
Kadang kalau ada seorang teman curhat ke saya, saya suka gemez sendiri kalau ceritanya setengah-setengah. Jadi kadang saya mencecar dia dengan berbagai pertanyaan.
"Hah, kok bisa istrimu marah padahal cuma gitu doang? Emang dia tipe yang baperan ya, dikit-dikit marah? Oh enggak...berarti karena hal ini dianggap penting ya sama dia? Kenapa hal tersebut bisa penting ya buat dia? Istri kamu temen-temennya tipe yang gimana sih? Suka kompor nggak? Kan biasa tuh cewek suka kompor-komporan kalau udah kumpul-kumpul. Ya tau laaahhh....kan aku juga cewek. Oh...enggak juga ya? Kalau gitu dia dulunya kayak apa sih? Pas sekolah tipe yang gaul nggak? Hmm...kalau keluarganya gimana? Mungkin bapaknya dulu galak dan ngekang banget jadi pas jaman pacaran dia terkekang, semacam kurang kelon? Atau jangan-jangan istri kamu masih menaruh cinta lama ke mantannya yang...mm siapa tuh yang kerja di Dubai, yang lebih kaya dari kamu? Eh...eh...bro, bro? Kok udahan? Yah kamu cerita setengah-setengah amat? Apa? Aku kampret? Gimana sih ini, kan kamu duluan yang cerita emangnya aku tadi minta diceritain? Aku kan cuma mau sisi lengkapnya biar enak kalau ngasih pendapat. Apa? Eh jangan ditutup. Ya oloh. Ah LUWEH!"
Yah semacam itulah...
Intinya terkadang saya merasa lebih baik nggak tau apa-apa, daripada tau sedikit dan kemudian kepo to the max.
Teman dekat saya menilai itu hal yang baik. Bahkan cenderung mengaggumkan. Uhwow! Asik. Okelah. Saya memang mengagumkan kok. Siapa yang bisa menolak pesona saya?
Tapi ada juga kalangan yang menganggap bahwa kebiasaan saya ini adalah penyakit yang harus diobati. Mereka menilai kalau saya mengurangi jatah waktu untuk kepo-kepo hal yang nggak penting (bagi mereka) maka saya akan lebih produktif.
Ngomong-ngomong soal produktif, saat ini, selain aktif kepo-kepo soal isu-isu yang ada, saya juga sedang mengerjakan dua buah proyek, yang yah yang satu udah hampir rampung, yang satunya saya berasa mentok di ide tapi masih berusaha T.T. Terus saya juga aktif ngangon blog sebelah yang harus diupdate terus karena kalau enggak ntar jatah duit buat beli esedo saya berkurang. Selain itu saya juga aktif ngangon instagram saya, karena instagram saya erat kaitannya dengan pendapatan blog sebelah. Lalu saya juga punya pekerjaan rutin yang berhubungan dengan laporan keuangan, yang juga mau nggak mau harus dikerjakan karena duitnya lumayan buat beli makanan kucing saya.
Dan saya nggak punya pembantu, yang mana berarti saya setiap hari harus menyelesaikan pekerjaan seperti: menyapu (yang ngepel suami saya), cuci piring, masak, ngasih makan kucing, bersihin pup kucing, buang sampah, nguras bak mandi (yang bersihin WC mah suami saya), nyuci baju walau pakai mesin tapi kan harus jemur, dan nyetrika.
Ditengah padatnya aktifitas saya tersebut, saya pun sudah berkomitmen untuk selalu membaca setiap hari, blog walking setiap hari, ngobrol dengan orang lain (walau hanya via WA tapi saya berusaha keras membiasakan karena ternyata hal tersebut berguna banget) setiap hari, lari di tritmil setiap pagi, bikin make up look setidaknya seminggu sekali, dan bersenang-senang (entah piknik, shoping ke mall, nonton, dll) seminggu sekali.
Jadi saya mau tanya kepada kalangan yang kemarin menyarankan saya untuk berhenti kepo agar lebih produktif, Apa saja aktifitasmu hari ini? Sudahkah kamu berkarya hari ini?
Terima kasih dan jangan baper :).
Kalau ngga kepo mah bukan Arum namanya.. hahaha...
ReplyDeleteEhhh...Tintas juga kepo... Ngepoin blog galaunya Arum..
Wah Tintaz tau aja. Terus sekarang Tintaz ikut-ikutan Arum deh.
DeleteIni kenapa bahasa kita jadi kayak Ndok? T.T
Aku malah bingung kalau ga kepo itu harus gimana? ga buka medsos dan ikutin berita samsek gitu? klo nonton berita di tv atau denger lewat radio tetep aja ujungnya buka google dan mampir sana sini. biar kondisi terang benderang :D daripada terjadi fitnah xD
ReplyDeleteproduktif saya mah aktif ngeblog lagi aja. udah gitu. eh tapi kepo juga dehbuktinya mampir di sini
Maksudnya mungkin ya denger sekedar denger aja Jeng. Nggak mau mencari tahu lebih lanjut. Jadi denger Marshanda buka jilbab, nggak usahlah cari tau lebih lanjut kenapa-kenapanya. nggak usah mencoba memikirkan macem2. Pokoknya cepet2an aja komen di IGnya "MURTAD!" biar hits. Rrrrr...
DeleteSemoga kita terus produktif ya. Kepo itu aku rasa penting. Kalau blogger nggak kepo blog orang lain gimana dia bisa tau tulisannya sudah bagus atau belum? :D
Mungkin karena kalau mulai cari tahu marshanda buka jilbab kenapa nanti ujungnya kepo to the max mba arum xD
DeleteAHA! Setuju aku
Ah sama... aku diam2 juga suka kepo. Soalnya apa ya... kalo gak maksimal keponya, malah jd berprasangka yg salah wkwk
ReplyDeleteOh iya bang Zul istrinya udah hamel belum? #UdahNggakNgepoLagi :))
DeleteLoh bukannya waktu nikah itu sudah hamel ya? Denger denger dari periasnya sih gitu #horebocoooor
DeleteHahhhh??? Alhamdulilah tapi pak DM mau punya cucu yah :))
Deletekarena kepo itu terapi jiwa,, ahaha,
ReplyDeleteKadang2. Tapi kadang2 jadi penyakit jiwa :')
DeleteKepo adalah motivasi untuk tau lebih, dan mencari tau informasi termasuk ilmu. Ilmu kepo berati baik :p
ReplyDeleteNah, itu tahu mbak!
DeletePendapat mb yang ini senarnya awal yang bagus loh untuk bisa paham ungkapan Jasmerah :)
menurut saya gak salah koq kepo yang salah itu istilahnya aja, kalo ngomongnya kepo konotasinya jadi negatif. hehe
ReplyDeleteIya, istilahnya nggak enak ya? Padahal artinya kece-kece aja :D
DeleteMbaaaa kok aku mirip2 sama dirimu ya, jadi kalo ketemu sama pacar (tiap hari) selalu ada bahan yang aku ceritain berdasarkan ke-kepo-an ku. Untung bukan aku doang yang begitu yah haha 😂. Btw salam kenal ya mbaaa
ReplyDeleteHahaha...suamiku juga heran. Ada aja yang aku ceritain :))
DeleteSalam kenal.
Sehabis cari pictorial eyebrow kesangkut di racunwarnawarni lanjut ke instagram lalu liat blog yang satu ini lagi. Aku udah fix kepo sama mb arum ga?hihi.btw, salam kenal mba. Sukaa baca tulisan mba��
ReplyDeletehahaha...haloo. Selamat datang. Selamat kepo :D
Delete